Vale Produksi Bahan Baku Baterai Mobil Listrik di Tambang Pomalaa

Ulfa Arieza, Jurnalis · Selasa 28 Agustus 2018 21:18 WIB
https: img.okezone.com content 2018 08 28 320 1942772 vale-produksi-bahan-baku-baterai-mobil-listrik-di-tambang-pomalaa-i2zwKg2uR5.jpg Mobil Listrik (Ilustrasi: Reuters)

JAKARTA - Pemerintah tengah mengembangkan teknologi mobil listrik dengan emisi karbon rendah. Sejalan dengan pengembangan teknologi mobil listrik, pemerintah juga akan mengembangkan teknologi baterai mobil listrik.

Direktur Utama Vale Indonesia Nico Kanter mengatakan, smelter milik perseroan yang akan dibangun di Pomalaa, Sulawesi Tenggara bakal memproduksi nikel yang sesuai dengan kebutuhan pembuatan baterai mobil listrik. Selain di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, Vale Indonesia akan membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral di Bahodopi, Sulawesi Tengah.

Usung Konsep Teknologi Hybrid dan Powertrain Listrik,  Mercedes Benz EQ Power Diperkenalkan di IIMS 2018 

"Kalau untuk nikel ini ada dua kelas, nikel kelas dua dan nikel kelas satu. Untuk nikel kelas dua untuk stainless steel, baja. Sedangkan nikel kelas satu itu yang bisa dijadikan bahan untuk mobil listrik atau baterai mobil listrik. Jadi yang di Pomalaa kalau kita sudah berjalan, itu akan menjadi salah satu bahan untuk baterai mobil listrik," kata Nico dalam acara Investor Summit di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (28/8/2018).

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Keuangan Vale Indonesia Febriany Eddy menjelaskan, teknologi pengolahan nikel yang menghasilkan nikel sesuai dengan kebutuhan baterai mobil listrik di Indonesia saat ini belum ada. Sehingga, proyek di smelter Pomalaa ini akan menjadi pionir teknologi pengolahan nikel untuk baterai mobil listrik di Indonesia.

Simulasi Pengisian Daya Mobil Listrik BMW i8 melalui BMW i Wallbox Plus 

"Kebanyakan produksi nikel Indonesia itu, bentuknya feronikel dan NPI, ini kelas dua. Jadi tidak bisa dipakai untuk baterai mobil listrik. Nanti, prosesnya akan berbeda dengan yang sekarang ini, karena akan banyak menggunakan bleaching," jelas Febry.

Sekadar informasi, perseroan belum menentukan mitra kerja untuk pembangunan dua smelter di Bahodopi dan Pomalaa di Sulawesi Tenggara. Perusahaan tambang logam dan mineral ini tengah menunggu hasil uji kelayakan (feasibility study) dari calon mitra.

Diharapkan, hasil uji kelayakan dapat disampaikan kepada Vale Indonesia tahun ini, sehingga proses pembangunan smelter dapat dikebut perseroan. Sebelumnya, perseroan menyebutkan ada tiga calon mitra pembangunan smelter, yakni perusahaan dari Jerman, Jepang, dan China.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini