Rupiah Terabas Level Rp15.248, Anjlok Terendah Sejak Krismon 1998

Rani Hardjanti, Jurnalis · Selasa 09 Oktober 2018 10:49 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 09 278 1961459 rupiah-terabas-level-rp15-248-anjlok-terendah-sejak-krismon-1998-7mjW0WwRAG.jpg Nilai tukar Rupiah anjlok terendah sejak 1998. (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Rupiah memasuki babak baru di era tekanan jual yang semakin besar. Kurs Rupiah merosot ke level di level Rp15.248 per USD, terendah dalam dua dekade atau sejak 1998.

Berbagai faktor memberikan sentimen bagi investor terhadap pasar berkembang semakin meredup dalam beberapa pekan terakhir, termasuk perkembangan situasi dagang, ekspektasi kenaikan suku bunga AS, dan apresiasi Dolar.

Baca Juga : Sudah Tembus Rp15.200/USD, Sri Mulyani Beri Sinyal Rupiah Masih Akan Hadapi Tekanan

Research Analyst FXTM Lukman Otunuga menjelaskan, dari aspek teknis, nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS tetap sangat bullish. Harga berada di kisaran Rp15.260 per USD pada saat laporan ini dituliskan.

"Dolar AS yang menguat dapat mengangkat pasangan mata uang ini ke level yang tak pernah tersentuh sejak krisis keuangan 1998, yaitu Rp15.280 per USD," ujarnya dalam riset kepada Okezone, Selasa (9/10/2018).

Dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang mayoritas karena ekspektasi kenaikan suku bunga AS.

Dolar awalnya melemah pada Jumat lalu karena investor melihat data lapangan kerja AS yang bervariasi di bulan September.

Baca Juga : Dolar AS Masih Perkasa, Rupiah Terpuruk di Level Rp15.240

Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Melemah Jadi Rp14.940 per Dolar AS

Efek domino Rupiah Anjlok

Walaupun depresiasi signifikan Rupiah sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, lanjutnya, namun dampak negatif dapat merambat ke ekonomi Indonesia.

Perlu diperhatikan bahwa penurunan signifikan kurs Rupiah dapat memberi tekanan semakin besar terhadap utang luar negeri Indonesia. Kenaikan suku bunga AS dan apresiasi Dolar memukul negara dengan defisit transaksi berjalan dan uang luar negeri, sehingga Rupiah Indonesia tetap berada di posisi yang tidak menggembirakan.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini