JAKARTA - Nilai tukar rupiah sempat menembus batas psikologis Rp15.000 per dolar AS. Faktor eksternal, seperti efek Perang Dagang AS-China, naiknya harga minyak dan Geopolitik. Rupiah tertekan paling dalam kurun awal Januari 2018-Oktober 2018. Bank Indonesia sebelumnya sudah merespons dengan menaikkan suku bunga 7 DRR rate menjadi 5,75%. Sementara di pasaran pun likuiditas perbankan makin tidak merata dan cenderung ketat. Perang antar bank merebutkan likuiditas makin tajam, dan makin “brutal”.
Baca Juga: Rupiah Mulai Bangkit dari Tekanan Dolar AS, Pagi Ini Menguat ke Rp15.221
Kekeringan banyak melanda daerah-daerah karena kemarau yang menyengat. Kekeringan likuiditas mulai terasa di perbankan Indonesia. Likuiditas tidak merata antara satu bank dan bank yang lain. Perang suku bunga tinggi terjadi antarbank, yang diawali oleh bank-bank besar lalu merembet ke bank-bank kelas menengah kecil.
Efek domino bisa saja terjadi jika psikologi nasabah berubah menjadi ketakutan. Pengalaman krisis 1998, sekecil apa pun bank yang ditutup akan menyulut psikologis nasabah, menjadi rumor yang menyulut ke bank lain. Walau, saat ini, kondisi perbankan masih relatif kuat.
Saat ini, harus diakui, badai krisis mulai terasa. Memang, ekonomi Indonesia tidak buruk-buruk amat. Dengan pertumbuhan 5,27% (triwulan II), ekonomi kita dapat dikatakan masih cukup tangguh. Harus diakui pula ada pelemahan rupiah, tapi masih dinilai tidak seperti ketika krisis 1998.
Banyak analis yang menyebut Indonesia jauh dari krisis. Situasi 1998 berbeda dengan 2018. Saat itu pertumbuhan ekonomi minus 13%, 34%, cadangan devisa hanya USD23,61 dan sekarang USD118 miliar dan inflasi saat itu 78,2%.
Baca Juga: Rupiah Rp15.237/USD, Masih Belum Mampu Lawan Dolar
Situasi 1998 dengan 2008 memang beda. Tahun 1998 krisis dan 2008 tidak krisis. Namun, jika dibandingkan dengan indikator ekonomi 1997 atau 1996, seperti defisit transaksi berjalan dan defisit perdagangan agak-agak mirip. Juga,rating surat utang tahun 1997 dan 2018 sama-sama BBB-.
Pun dengan posisicurrent account defisit(CAD) Indonesia yang 3,04% dari PDB. Posisi ini masih tidak lebih baik daripada Thailand dan Malaysia. Jadi, meski jauh dari krisis, tentu tidak over confidence yang pada akhirnya akan melemahkan kuda-kuda kita jika tidak mempersiapkan diri. Faktor turbulensi global menjadi penentu.