nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tekanan IHSG Masih Berlanjut Pekan Depan, Apa Penyebabnya?

Taufik Fajar, Jurnalis · Sabtu 13 Oktober 2018 15:29 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 10 13 278 1963605 tekanan-ihsg-masih-berlanjut-pekan-depan-apa-penyebabnya-AFoHQsqiAm.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan ini ditutup dengan peningkatan sebesar 0,43% ke level 5,756.49 poin dari 5,731.93 poin pada pekan sebelumnya.

Menanggapi hal itu, Ekonom Universitas Indonesia UI Fithra Faisal memprediksi IHSG selama sepekan ke depan masih akan cukup tertekan, karena memang ada tekanan dari sisi indeks Dow Jones.

"Di mana dari sisi market dan tekanan US Treasury Bonds yang kalau kita lihat 10 tahunnya sudah di atas 3% dan itu trennya bisa naik terus itu menunjukan bahwa convenience level di Amerika Serikat (AS) itu, sudah cukup tinggi," kata Fithra di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (13/10/2018).

Baca Juga: Rapor IHSG Sepekan, Investor Asing Jual Bersih Rp4,16 Triliun


Dia menjelaskan dengan suku bunga yang cukup tinggi itu, US Treasury Bonds harganya turun. Kalau harganya turun itu artinya cerminan dari demand terhadap US Treasury Bond yang berkurang ini meraka ke mana. Mereka mencari rate aset aset yang lebih berisiko.

"Itu yang mencerminkan tingkat kepercayaan di AS itu sedang tinggi-tingginya. kenapa? karena AS kondisi perekonomiannya sedang membaik beda dengan emerging market yang sedang cycling down mereka cycling up. dengan konteks itu emerging market masih akan tertekan," pungkasnya.

Baca Juga: IHSG Diprediksi Balik Arah ke Zona Hijau


Sebelumnya, sejalan dengan peningkatan IHSG, nilai kapitalisasi pasar pada pekan ini juga mengalami peningkatan sebesar 0,62% ke posisi Rp6,502.62 triliun dari Rp6,462.42 triliun pada pekan sebelumnya. Demikian seperti dikutip keterangan resmi BEI, Jakarta, Jumat (12/10/2018).

Sedangkan, untuk rata-rata volume transaksi harian BEI mengalami peningkatkan 2,04% menjadi 11,21 miliar unit saham dari 10,99 miliar unit saham pada pekan lalu.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini