nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perlu Terobosan Kebijakan Ekspor-Impor demi Jaga Neraca Perdagangan

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 17 Oktober 2018 12:33 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 10 17 320 1965133 perlu-terobosan-kebijakan-ekspor-impor-demi-jaga-neraca-perdagangan-6kSL0JcxSI.jpeg Pelabuhan. Foto: Shutterstock

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar ada terobosan-terobosan untuk meningkatkan kinerja ekspor dan mengendalikan impor guna melanjutkan surplus neraca perdagangan.

Untuk saat ini pemerintah akan mempertahankan kebijakan ekspor dan impor kendati Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus perdagangan pada September 2018 mencapai USD230 juta. Jokowi menilai, data BPS bulan lalu menunjukkan kinerja perekonomian berjalan ke arah lebih baik. Meski demikian, Presiden meminta agar kinerja ekspor-impor terus dipantau di lapangan sehingga pada bulan-bulan berikutnya surplus tetap terjaga.

Baca Juga: Presiden Jokowi Minta Para Menteri Lakukan Terobosan Kendalikan Impor

“Karena pada rapat-rapat yang lalu kita selalu berkonsentrasi menekan impor dan meningkatkan ekspor,” ujar Jokowi seusai memimpin sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, kemarin.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada September 2018, BPS mencatat neraca perdagangan surplus USD230 juta. Kinerja ekspor-impor bulan lalu lebih baik dibandingkan sebelumnya yang mencatat defisit USD940 juta. Surplus neraca perdagangan bulan kesembilan 2018 ditopang oleh ekspor nonmigas yang meningkat signifikan dan impor migas menurun. Meski demikian, secara kumulatif Januari–September 2018, neraca perdagangan Indonesia masih defisit USD3,78 miliar. Jokowi meminta agar para menteri bekerja lebih detail dalam peningkatan ekspor migas maupun nonmigas. Pada kesempatan itu, Jokowi juga menyoroti terhambatnya implementasi biodiesel 20% (B20).

Defisit Neraca Perdagangan 

“Berkaitan dengan B20, saya nanti minta laporan harus dipastikan eksekusinya di lapangan. Saya mendengar ada sedikit masalah mengenai pasokan dari CPO-nya di lapangan. Jadi, saya minta laporan mengenai hal ini,” tuturnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengakui ada beberapa kendala teknis dalam implementasi B20. Dia pun telah melaporkan apa saja yang diperlukan, diputuskan, dan dilakukan. “Ini persoalan tangki, persoalan kapal, persoalan ya. Kalau purchase order kan gampang. Kalau bangun tangki itu butuh waktu,” ungkapnya.

Baca Juga: Fakta Neraca Perdagangan Surplus USD230 Juta yang Ditopang Ekspor Nonmigas

Dia menambahkan, akan memeriksakan pada Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BUBBN) yang terlambat melakukan pengiriman. Selain itu, akan diperiksa faktor apa yang menyebabkan keterlambatan itu. “Kalau terlambat, tentu bukan salah dia juga. Jadi tergantung siapa, benar salahnya apa tidak, kita akan periksa,” tuturnya. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menilai surplus neraca perdagangan pada September 2018 merupakan pertanda baik bagi ekonomi domestik. “Ini menunjukkan beberapa langkah bersama yang dilakukan BI dan pemerintah untuk menurunkan current account deficit(CAD), ada tanda-tanda awal mengarah ke perkembangan membaik,” ujarnya saat ditemui usai rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR di Jakarta, Senin (15/10).

Terkait ekspor, kata Perry, memang belum optimal terutama karena pertumbuhan ekonomi China yang merupakan negara tujuan ekspor komoditas utama Indonesia masih relatif lambat. “Dengan pertumbuhan ekonomi China melambat, ya wajar permintaan ke komoditas agak melambat, tapi kita juga sudah bersyukur bahwa ekspor kita naik. Cuma memang untuk menggenjot lebih tinggi lagi, kalau hanya bertumpu pada komoditas, agak susah,” katanya.

Defisit Neraca Perdagangan 

Menurut dia, ekspor dari sisi manufaktur dan sektor pariwisata perlu didorong sehingga bisa membantu perbaikan defisit transaksi berjalan. “Selain mendorong ekspor untuk memperbakai CAD, mengurangi impor, dan mendorong pariwisata. Pariwisata ini cepat bisa mendorong devisa sehingga bisa memperbaiki CAD,” ujar Perry.

Kendati demikian, katanya, meskipun neraca perdagangan September membaik, tapi dalam jangka pendek pada triwulan tiga defisit transaksi berjalan (current account deficit/ CAD) belum bisa menurun drastis dan kemungkinan ada kecenderungan lebih dibandingkan triwulan kedua.

(Dita Angga/Ant)

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini