nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Di Bandung, Bayar Tagihan PLN dan PDAM Bisa Pakai Sampah

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 18 Oktober 2018 13:08 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 10 18 320 1965676 di-bandung-bayar-tagihan-pln-dan-pdam-bisa-pakai-sampah-IZVL281keU.jpg Listrik (Ilustrasi: Shutterstock)

BANDUNG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, Jawa Barat, terus menggencarkan upaya memecahkan masalah sampah. Selain Gerakan Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan (Kang Pisman), juga menggelorakan gerakan Kawasan Bebas Sampah (KBS) melalui bank sampah.

Bahkan di Kecamatan Mandalajati, warga dapat memanfaatkan aplikasi saat bertransaksi di bank sampah. Ketua Karang Taruna Mandalajati, Oki Ariesyana menjelaskan, melalui aplikasi Bank Sampah Mandiri Mandalajati, warga bisa menukarkan sampah dengan saldo. Warga dapat memanfaatkan saldo yang terkumpul untuk membayar tagihan PLN, PDAM, atau membeli kebutuhan pokok.

Baca Juga: Menyulap Tumpukan Sampah Kertas Jadi Kardus yang Bernilai

“Sampah organik itu menjadi saldo yang bisa dilihat melalui smart card atau Android. Rencananya program bank sampah ini juga menggaet sejumlah warung dan bengkel di sekitar Mandalajati,” kata Oki saat peluncuran Gerakan Kawasan Bebas Sampah (KBS) melalui Bank Sampah RW, Kelurahan, dan Kecamatan Berbasis Aplikasi di Kantor Kecamatan Mandalajati, Jalan Pasir Impun, Bandung, kemarin.

Sampah di Jakarta Capai 400 Ton Setiap Harinya 

Saat ini nasabah yang telah bergabung sebanyak 125 orang. Mereka terdiri atas para pegawai kecamatan dan kelurahan. Setelah diresmikan, program tersebut akan mulai menyentuh kepada nasabah hingga ke tingkat RW. “Kami buat ini dari warga, oleh warga dan untuk warga mulai dari aplikasi, pengepul hingga pemanfaatan saldo untuk warga di Mandalajati,” ujar Oki. Wali Kota Bandung Oded M Danial sangat mengapresiasi gerakan itu. Inovasi teknologi yang dilakukan Karang Taruna Mandalajati sangat luar biasa. Sebab warga yang mengumpulkan sampah plastik akan mendapatkan uang elektronik berupa saldo. “Alhamdulillah, di Kecamatan Mandalajati, KBS dilengkapi inovasi berbasis aplikasi. Ini baru ada di Kecamatan Mandalajati,” kata Oded.

Baca Juga: Perangi Sampah Plastik di Laut, Menko Luhut Pakai 'Senjata' Ini

Dia mengungkapkan, masalah sampah di Kota Bandung memang seperti bom waktu. Hal itu karena masih sangat tergantung pada keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sedangkan TPA untuk Kota Bandung, yaitu TPA Sarimukti yang berada di luar wilayah Kota Bandung. “Untuk itu, kita memang harus bisa mengelola sampah sejak dari rumah. Itu bisa mengurangi sampah di Kota Bandung,” tutur Oded. Pemkot, kata dia, memiliki program bernama Bebersih Bandung. Karena dalam program tersebut terdapat gerakan KBS dan gerakan ini mulai mendapat respons positif dari masyarakat. Hal itu terlihat dari semakin banyaknya kelompok masyarakat yang membentuk bank sampah di setiap kecamatan.

Sampah di Jakarta Capai 400 Ton Setiap Harinya 

Oded berharap gerakan KBS di Kota Bandung bisa terus berkembang pesat. Sebab dengan menggerakkan program ini secara masif bisa mengurangi persoalan sampah yang masih menjadi masalah karena latar belakang Bandung yang tidak memiliki tempat pembuangan akhir (TPA) sampah sendiri. “Produksi sampah di Kota Bandung itu mencapai 1.600 ton per hari. Kalau tidak disikapi oleh kita sendiri dalam hal ini memilah sampah dari tingkat bawah tentu akan menjadi bom waktu. Karena itu, sampah yang diproduksi bisa diatasi mulai tingkat awal,” ucap Oded.

(Yogi Pasha)

(kmj)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini