nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Neraca Perdagangan November 2018 Defisit USD2,05 Miliar

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Senin 17 Desember 2018 12:54 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 17 320 1992310 neraca-perdagangan-november-2018-defisit-usd2-05-miliar-oYv5ykhy5X.jpeg Kepala BPS Suhariyanto (Foto: Yohana/Okezone)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada November 2018 mengalami defisit sebesar USD2,05 miliar. Mengalami peningkatan dari kondisi defisit di Oktober 2018 yang sebesar USD1,82 miliar.

Kondisi defisit November 2018 ini dipicu defisit sektor minyak dan gas (migas) sebesar USD1,46 miliar. Sedangkan sektor non migas juga mengalami defisit sebesar USD583 juta.

"Defisit cukup dalam sebesar USD2,05 miliar, yang menyebabkan defisit adalah terjadinya defisit di migas dan non migas. Di sektor migas minyak mentah dan hasil minyak mengalami peningkatan impor sehingga defisit, sementara untuk gas masih alami pertumbuhan positif atau surplus," ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam acara konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (17/12/2018).

Baca Juga: Ekspor Perikanan RI USD143 Juta Tembus Pasar Korsel

Dia menjelaskan, di sektor migas terjadi defisit pada minyak mentah sebesar USD476,9 juta, kemudian tertinggi pada defisit hasil minyak yang sebesarUSD1,58 miliar. "Adapun gas masih terjadi surplus sebesar USD594 juta," jelasnya.

Adapun posisi ekspor Indonesia pada November 2018 sebesar USD14,83 miliar, angka tersebut turun 6,69% dari realisasi di Oktober 2018 sebesar USD15,80 miliar. Apabila dibandingkan dengan November 2017 juga terjadi penurunan 3,28% dari yang sebesar USD15,33 miliar.

Defisit Neraca Perdagangan 

Sementara dari sisi impor, pada November 2018 tercatat sebesar USD16,88 miliar, turun 4,47% dari posisi Oktober 2018 sebesar USD17,62 miliar. Bila dibandingkan dengan impor November 2017 tercatat naik sebesar 11,68% dari sebesar USD15,11 miliar.

Kecuk berharap berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah untuk menggenjot ekspor dan mengendalikan impor, ke depannya akan lebih teriplementasikan. "Karena butuh waktu untuk mengejar ekspor, untuk diversifikasi pasar, produk yang kompetitif dan menurunkan biaya logistik,” pungkasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini