"Jadi yang ingin disampaikan, kami memproyeksikan untung, tetapi jangan disampaikan berapa kali lipat," ujarnya.
Baca Juga: Waduh, Rugi Indofarma Semakin Menumpuk ke Rp64,14 Miliar
Dia mengatakan, penopang penjualan INAF pada tahun depan adalah segmen non farmasi seperti penjualan peralatan kesehatan. Hingga September 2018, penjualan alat kesehatan, diagnostik dan lain-lain senilai Rp147,87 miliar, turun 32% year on year dari posisi Rp217,73 miliar. Target penjualan bersih tahun ini 28,83% lebih tinggi ketimbang realisasi penjualan bersih 2017 yang tercatat Rp 1,63 triliun.
Selain mematok kenaikan pendapatan, INAF juga menargetkan mengakhiri kerugian pada tahun ini. Upaya perseroan menggenjot pertumbuhan penjualan dilakukan dengan terus mengembangkan banyak produk, khususnya di luar obat generik. Disamping itu, perusahaan juga berencana merealisasikan pembangunan pabrik infus di Makassar, Sulawesi Selatan. Saat ini, lahan pabrik telah tersedia. Indofarma membelinya dari mitra bisnis. Pembangunan pabrik infus berlangsung mulai semester II 2018 dan waktu pengerjaan sekitar 1,5 tahun.
Proses pembangunan pabrik berkapasitas sekitar 40 juta botol infus per tahun itu bakal melibatkan dua perusahaan lain dalam skema joint venture (JV).”Indofarma mengempit 20% kepemilikan saham dalam JV tersebut. Porsi saham selebihnya adalah milik Sungwun Pharmacopia Co. Ltd dan PT Baruna Energi Lestari. "Nilai investasi pabriknya Rp 200 miliar diluar lahan,"kata Rusdi Rosman, Direktur Utama Indofarma.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.