nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

OJK Minta Pasar Modal Biayai UKM

Senin 31 Desember 2018 14:47 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 12 31 278 1998166 ojk-minta-pasar-modal-biayai-ukm-bfwFgAcu12.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Terus meningkatnya likuiditas di pasar modal tiap tahunnya, mendorong Otoritas Jasa keuangan (OJK) untuk terus meningkatkan peran pasar modal dalam menyediakan pembiayaan pembangunan dan kebutuhan pembiayaan bagi korporasi serta usaha kecil dan menengah.

”Pada 2019 mendatang, seluruh pelaku pasar modal Indonesia bertekad untuk kembali memberikan kontribusi terbaiknya, khususnya untuk mendukung pembiayaan program-program ekonomi prioritas," kata Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso seperti dikutip Harian Neraca, Jakarta, Senin (31/12/2018).

Sepanjang tahun 2018 kemarin, disampaikannya terdapat 24 emiten sektor infrastuktur yang melakukan fund raising melalui pasar modal dengan total nilai emisi Rp28,05 triliun. Selain itu, penerbitan Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK-EBA) terkait infrastruktur dengan nilai sekuritisasi sebesar Rp7,44 triliun.

 Baca Juga: Relaksasi Peraturan OJK untuk UKM dan Startup

Kemudian, Efek Beragun Aset berbentuk Surat Partisipasi (EBA-SP) dengan total nilai sekuritisasi Rp3,57 triliun. Dan, Kontrak Investasi Kolektif Dana Investasi Real Estat (KIK-DIRE) dengan nilai sekuritisasi sebesar Rp0,62 triliun.

Kemudian dalam rangka meningkatkan likuiditas pasar, Wimboh Santoso juga menyampaikan, pihaknya telah mempercepat penyelesaian transaksi di Bursa Efek menjadi dua hari (T+2) dari sebelumnya T+3.

”Kami mencatat rata-rata volume harian meningkat 37,47% dari 9,2 miliar transaksi menjadi 12,8 miliar transaksi dan rata-rata nilai transaksi naik 26,96% dari Rp8,1 triliun menjadi Rp10,2 triliun," paparnya.

Wimboh juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah yang merespon cepat dan antisipatif mengenai perkembangan ekonomi yang cukup dinamis baik tingkat global maupun domestik sehingga menjaga kepercayaan investor terhadap industri pasar modal nasional.

”Berbagai catatan positif tidak terlepas dari dukungan pemerintah, Bank Indonesia, dan peran serta seluruh pemangku kepentingan lainnya di industri jasa keuangan," ungkapnya.

 Baca Juga: Gelontori Amunisi Ekspor, OJK Keluarkan Paket Kebijakan

Sinergi itu, kata Wimboh, selain menambah kepercayaan publik, khususnya investor, juga memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan industri pasar modal secara keseluruhan.

Kemudian terkait kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) pada 2018, Wimboh mengungkapkan, IHSG mengalami koreksi, namun masih yang terbaik diantara kinerja bursa saham utama se-Asia Pasifik dan bahkan diantara bursa saham utama dunia.

Berdasarkan data BEI, IHSG mengalami penurunan 2,54% menjadi 6.194,49 poin dibandingkan akhir 2017 lalu. Kinerja itu masih lebih baik dibandingkan bursa saham di kawasan Asia Pacific di antaranya Malaysia yang mengalami penurunan 5,83%, Filipina turun 12,76%.

Selain itu, bursa Hong Kong melemah 14,76%, Jepang turun 12,08%, Australia turun 7,32%. Sementara itu, bursa saham yang mencatatkan kinerja positif hanya bursa India yang naik 6,17%.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini