nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pemerintah Beli 2.542 Ton Karet Petani untuk Campuran Aspal

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Senin 07 Januari 2019 14:48 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 07 320 2001022 pemerintah-beli-2-542-ton-karet-petani-untuk-campuran-aspal-PcNoONXSXD.jpg Petani karet (Foto: Antara)

JAKARTA - Pemerintah akan menyerap 2.542,20 ton karet untuk menjadi bahan pencampuran aspal. Hal ini sebagai upaya untuk mendorong harga komoditas karet yang tengah jatuh.

Berdasarkan data Bloomberg, Senin (7/1/2019) harga karet untuk kontrak teraktif di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) kini di level 177,3 yen per kilogram.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Budi Setiadi menyatakan, penggunaan aspal karet akan dilakukan di beberapa daerah yang menjadi sentra produksi karet, di antaranya Sumatera Selatan, Kalimantan, Jambi dan Medan.

Baca Juga: Presiden Jokowi Perintahkan Menteri PUPR Beli Karet Rakyat untuk Aspal Jalan

"Karena sekarang harga karet agak turun, nah kita harapkan (dengan program ini) ada terbentuk satu harga untuk masyarakat," katanya ditemui di Gedung Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (7/1/2019).

Dia menjelaskan, aspal bercampur karet ini akan digunakan untuk memperbaiki atau menambal jalan beraspal yang rusak. Di mana akan diaplikasikan pada total keseluruhan panjang jalan 93,66 kilometer (km).

"Itu biasanya untuk overlay, jadi untuk perbaikan saja," imbuh dia.

Harga Karet di Tingkat Petani Anjlok 

Selain itu, anggaran sebesar Rp20 miliar juga dialokasikan untuk program ini sepanjang tahun 2019. "(Anggarannya) masuk di PUPR, tapi Kemenhub diminta sektor transportasi apa saja. Juga untuk bantalan kereta," pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (Ilmate) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Achmad Sigit menambahkan, kandungan karet yang diperlukan dalam campuran aspal sebanyak 7%-8%.

"(Untuk memproduksi karet) itu kita pakai tiga teknologi, menggunakan lateks, kemudian masterbatch, kemudian ada yang pakai skat," katanya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini