nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tekan Impor LPG, RI Bangun Pabrik Gasifikasi Batu Baru

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 16 Januari 2019 20:06 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 16 320 2005437 tekan-impor-lpg-ri-bangun-pabrik-gasifikasi-batu-baru-VGhV3IlPBp.jpg Foto: Yohana Okezone

JAKARTA - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Pertamina (Persero) menggandeng perusahaan asal Amerika Serikat, Air Products and Chemicals, Inc untuk membentuk perusahaan patungan (joint venture) komoditas batu bara. Ketiganya bakal membangun pabrik gasifikasi batu bara di Peranap, Riau yang rencananya mulai direalisasikan pada akhir Maret 2019.

Kerjasama itu ditandai dengan penandatangan pokok-pokok perjanjian yang dilakukan oleh Direktur Utama PTBA Arviyan Arifm, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, dan Chairman, President & CEO Air Products and Chemicals Inc. Seifi Ghasemi, dengan disaksikan Menteri Badan Usaha Milik Negaa (BUMN) Rini Soemamo.

Penandatanganan ini merupakan kelanjutan dari Nota Kesepahaman kerjasama hilirisasi batu bara menjadi dimethylether (DME) yang dilakukan oleh ketiga perusahaan pada 7 November 2018 lalu di Allentown, Amerika Serikat.

 Baca Juga: Proyek Gasifikasi Batu Bara Diklaim Turunkan 70% Impor LPG Pertamina

Menteri BUMN Rini Soemarno menjelaskan, melalui proyek gasifikasi batu bara tersebut dapat mengurangi impor bahan elpiji yang selama ini dilakukan Pertamina. Kata dia, sekitar 70% bahan elpiji masih harus diimpor Pertamina.

Sehingga Indonesia memang perlu mengembangkan industri hilirisasi batubara ini, sebab bukan hanya bertujuan mengurangi impor tapi juga mendorong ekspor.

"Produk ini penting, sekarang 70% LPG kita impor. Jadi kita concern untuk mencari solusi. Tahun kemarin neraca perdagangan kita defisit karena migas. Maka dengan kerja sama ini, akan membantu Indonesia untuk mengurangi impor dan memaksimalkan raw material dalam negeri," jelasnya di Grand Hyatt, Jakarta, Rabu (16/1/2019).

Melalui teknologi gasifikasi, batu bara akan diubah menjadi syngas yang kemudian akan diproses kembali menjadi produk akhir (jadi). Nantinya, PTBA akan menyuplai batubara dari area tambang Peranap ke perusahaan patungan untuk diolah menjadi produk akhir yang akan dibeli oleh Pertamina.

Sementara itu, optimasi desain teknologi pengolahan akan dilakukan oleh Air Products and Chemicals Inc. Saat ini, ketiganya masih dalam tahap melakukan studi kelayakan bisnis dan komersial dari proyek tersebut.

 Baca Juga: Masuk Daftar BUMN Bangkrut, Pertamina Beberkan Hasil Kerja 2018

Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin mengungkapkan, studi kelayakan atau feasibility study (FS) akan dimulai awal Februari 2019 dan ditargetkan proyek ini akan mulai pada akhir Maret 2019.

"Menunggu FS selesai. Jadi nilai investasi, komposisi saham masih dikaji bersama dan belum diputuskan. Semua akan diputuskan setelah FS," kata dia dalam kesempatan yang sama.

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menilai, kerjasama ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi nasional, melalui pemanfaatan DME.

Dia menyebutkan, pada tahun 2017 tercatat Indonesia mengonsumsi tidak kurang dari 7.11 juta ton elpiji. Di mana 73% bahan elpiji masih impor.

"Pabrik gasifikasi batu bara ini adalah proyek yang sangat strategis secara nasional karena kami rencanakan DME akan mengurangi sebagian besar kebutuhan LPG impor sebagai bahan bakar rumah tangga," kata dia.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini