Indonesia-Kamboja Kembali Jalin Kerjasama Pariwisata

Koran SINDO, Jurnalis · Minggu 20 Januari 2019 11:39 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 20 320 2006891 indonesia-kamboja-kembali-jalin-kerjasama-pariwisata-rqX787FOZv.jpg

JAKARTA - Indonesia dan Kamboja kembali memperbaharui dan memperpanjang nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) kedua negara yang sudah berlangsung sejak 1999.

Kedua negara sepakat untuk saling mem p romosikan potensi wisata masing-masing negara, ter uta ma destinasi ikonik Angkor Wat dan Candi Borobudur. MoU tersebut disepakati saat Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya diundang secara khusus oleh Menteri Pariwisata Kamboja Thong Khon, di sela-sela ASEAN Tourism Forum 2019 di Ha Long Bay, Vietnam, Jumat (18/1).

“Kami mengusulkan tahun ini MoU itu sudah selesai di tandatangani. Kami mengundang Pak Menteri Arief untuk datang ke Kamboja,” kata Thong Khon. Menteri yang menjabat sejak 2007 itu juga mengusulkan agar ada penerbangan langsung dari Phnom Penh ke Yogya karta.

Menurut dia, pada 1970-an, Royal Cambodia pernah terbang langsung ke Kota Gudeg. “Kami mengusulkan agar ada penerbangan kembali ke sana,” ujarnya. Usulan lainnya, yaitu terkait kerja sama warisan budaya atau heritage to heritage, antara Ang kor Wat dan Candi Borobudur.

Seperti diketahui, dua ke ajaib an dunia itu samasama telah mendapat pengakuan dari UNESCO. “Kami mengusulkan agar kerja sama di bidang pari wisata diperkuat lagi,” ujarnya. Selama ini sebenarnya ada program ASEAN, trail of civilization, antara Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Myanmar, dan Indonesia.

Saat ini Sri Lanka, India, Pakistan, dan Bangladesh juga ingin bergabung dalam program heritage to heritage itu. Menpar menyetujui beberapa usulan tersebut. “Soal MoU, akan kami percepat untuk segera diperbaharui.

Tahun ini juga akan dituntaskan,” tegasnya. Adapun soal program heritage to heritage, dengan menge depankan jejak-jejak budaya dan peradaban yang hebat zaman dulu, Menpar meng usul kan namanya Twin Temple Program.

Menpar juga merespons usulan penerbangan langsung dan menjelaskan bahwa pada April 2019 bandara Yogyakarta yang baru sudah akan beroperasi sehingga kapasitasnya le bih besar dan slot time -nya bisa bertambah lebih banyak.

“Selama ini kita tidak bisa mempercepat jumlah kun jungan wisatawan mancanegara (wis man) ke Borobudur, salah satunya karena persoalan akses, di mana bandara Adi Sucipto di Yogyakarta masih sangat terbatas,” tuturnya.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini