nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jelang Pilpres, Pelaku Pasar Properti Wait and See

Rikhza Hasan, Jurnalis · Selasa 22 Januari 2019 15:22 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 22 470 2007844 jelang-pilpres-pelaku-pasar-properti-wait-and-see-kvBEJjgzGk.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Pasar properti di tahun 2019 diprediksi tetap stabil, meskipun terjadi perlambatan kenaikan harga properti dari sisi penawaran pada kuartal keempat 2018 dibandingkan dengan kuartal ketiga pada tahun yang sama.

Secara kuartal ke kuartal, Rumah.com Property Price Index secara nasional meningkat sebesar 0,4%. Melambat jika dibandingkan kuartal ketiga yang mengalami kenaikan 2,3%.

"Meski demikian, perlambatan ini cukup wajar. Fokus masyarakat pada kuartal keempat adalah menghabiskan akhir tahun dan menyambut liburan, bukan mencari properti atau berinvestasi," ujar Country Manager Rumah.com Marine Novita dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Selasa (22/1/2019).

 Baca Juga: Persaingan Bisnis Properti 2019 Kian Ketat, Bagaimana Cara Menghadapinya?

Rumah.com Property Price Index DKI Jakarta kuartal keempat 2018 mengalami kenaikan 0,1% (q-o-q), sedikit melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang meningkat 0,7% (q-o-q). Perlambatan ini menjadi indikasi harga properti hunian di Ibu Kota mendekati titik jenuh.

Saat ini, pasar properti di DKI Jakarta lebih banyak tersedia untuk sektor menengah ke atas, sementara permintaan lebih banyak datang dari sektor menengah dan menengah-bawah. Suplai ini lebih banyak tersedia di sekitar Ibu Kota, terutama Jawa Barat yang memiliki 3 kota yang menempel langsung ke Jakarta.

"Jawa Barat, sebagai salah satu penyumbang suplai residensial terbesar, mengalami kenaikan harga sebesar 1,8% pada kuartal keempat dibandingkan kuartal ketiga. Kenaikan ini mengalami percepatan di mana pada kuartal ketiga hanya meningkat sebesar 1,5%," katanya.

 Baca Juga: Penjualan Rumah Tapak Bakal Naik di Tahun Politik

Marine mengakui kemungkinan perlambatan berlanjut hingga pertengahan kuartal kedua tahun depan karena adanya Pemilu 2019. Namun dia juga optimistis dengan prospek kuartal ketiga dan keempat tahun depan.

"Pelaku pasar properti memang masih wait and see. Namun, apapun hasil Pemilu 2019 nanti, saya yakin pasar akan berjalan normal kembali. Sebenarnya mereka menunggu agar pasar kembali fokus, bukan menunggu siapa yang terpilih," katanya.

 Baca Juga: Hunian Vertikal untuk Milenial Makin Dicari

Pemerintah sendiri telah melakukan sejumlah kebijakan yang mendukung pertumbuhan pasar properti, terutama di sektor residensial. Salah satu yang menarik adalah pelonggaran Loan to Value (LTV).

"Pelonggaran Loan to Value ini membuat pengembang bisa saja memberikan tawaran uang muka hingga serendah 0%, di mana tahun lalu masih sebesar 10%. Ini sangat baik karena sebagian besar kendala yang dialami masyarakat dalam membeli properti adalah uang muka," katanya.

Dinamika politik di paruh pertama tahun 2019 sedikit banyak akan berdampak pada dunia properti namun kondisinya akan membaik menjelang paruh kedua.

Yulius Fang dari Feng Shui Consulting Indonesia memprediksi bahwa kondisi pasar properti pada tahun Babi Tanah secara umum akan lebih baik dibanding kondisi di tahun sebelumnya, yakni Anjing Tanah.

"Kalau anjing tanah itu unsurnya sama-sama tanah, sementara properti juga tanah. Sehingga jadi slow down banget. Gambarannya seperti bukit. Jadi artinya properti stoknya banyak pengembangnya banyak. Sementara babi elemennya air dan tanahnya itu kecil seperti lada, yang artinya juga tanah dalam kondisi gempur siap ditanam. Tanah yang lembek ini adalah tahunnya menanam, perlu kesabaran dan kejujuran," kata Fang.

Bertolak dari penjelasan tersebut, untuk sukses di tahun Babi Tanah ini, seseorang perlu memiliki unsur air yang punya sifat likuiditas, dinamis, dan fleksibel. Sifat ini terutama harus dimiliki oleh mereka yang berbisnis di bidang properti.

"Di tahun Babi Tanah akan ada hambatan di sektor ekonomi, meski begitu karena sifatnya air itu dinamis maka dia masih bisa mengontrol. Tahun ini juga digambarkan situasi di mana dari luar terlihat stabil, lambat, santai, tetapi di dalamnya ada dinamisme pertumbuhan. Meski begitu ada pertumbuhan disertai risiko, tantangan, dan kekhawatiran," katanya.

Tanah memiliki makna positif di tahun 2019. Tanah menyerap air dan menyediakan lingkungan yang subur, yang berarti peluang baru, termasuk dalam hal keuangan.

Mengadaptasi sifat air yang dinamis, Fang menyarankan agar pelaku bisnis properti bersikap fleksibel untuk bertahan menghadapi perlambatan yang mungkin akan terjadi pada paruh pertama tahun 2019 ini. Dia mengatakan peluang di paruh pertama 2019 tetap ada meski terjadi perlambatan.

"Pengembang sebaiknya terus menerapkan berbagai strategi yang berkaitan dengan kemudahan pada skema pembayaran. Misalnya bebas bayar tiga bulan. Memang harus sabar," ujarnya.

Konsumen yang juga pelaku investor, tidak ada masalah untuk membeli di tahun Babi Tanah. Sebab tahun lalu dan tahun ini harga (properti) berada pada posisi cukup rendah dan sangat direkomendasikan kepada investor.

"Kalau di sisi end user permintaan itu tetap ada dan mereka juga cukup cerdas. Bagi konsumen dengan penghasilan tetap dan mampu membeli properti, saat ini adalah prospek yang bagus. Sebab permintaaan dan suplai itu bertemu. Sehingga penentuan membeli di tahun Babi Tanah tidak terkendala untuk kelas menengah apalagi end user," katanya.

Namun Fang mengingatkan agar di tengah semangat membeli rumah tahun ini, end user tetap berhati-hati dalam prosesnya. "Harus lebih realistis, terutama yang berprofesi sebagai wirausaha harus sesuai dengan daya beli karena potensi perambatan masih ada. Tahun Babi Tanah menurut riset akan mudah terjadi penipuan dan investasi bodong. Pastikan pikiran tetap jernih, kalau bisa beli dari developer terpercaya. Jangan lupa juga berkonsultasi dengan pakar sebelum membeli," ujarnya.

1 / 2
GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini