nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bos BI: Modal Asing Masuk RI Tembus Rp Rp19,2 Triliun

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 25 Januari 2019 15:28 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 25 20 2009356 bos-bi-modal-asing-masuk-ri-tembus-rp-rp19-2-triliun-vJaPUl0QQf.jpg Foto: Gubernur BI Perry Warjiyo (Giri/Okezone)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyebut aliran modal asing per 24 Januari 2019 mencapai Rp19,2 triliun. Adapun rinciannya adalah Rp12,07 triliun masuk lewat pasar saham, Rp8,02 triliun ke Surat Berharga Negara (SBN) dan sisanya ke instrumen lainya.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, modal asing dalam beberapa hari terakhir memang mulai masuk ke Indonesia. Hal tersebut mencerminkan kepercayaan investor asing terhadap ekonomi Indonesia di 2019 semakin membaik.

"Aliran modal asing terus masuk ke Indonesia, ini mencerminkan confidence terus tumbuh. Rinciannya Rp8,02 triliun ke surat berharga negara (SBN) pemerintah dan Rp 12,07 triliun ke pasar saham dan sisanya ke lain-lain," ujarnya di Komplek Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (25/1/2019).

 Baca Juga: Sepanjang November, Dana Asing Masuk RI Rp46,4 Triliun

Menurut Perry, aliran modal asing yang masuk ini sangat penting bagi kestabilan nilai tukar. Karena dolar AS yang masuk ini bisa menambah pasokan valas yang dimiliki pemerintah.

Apalagi menurutnya ditengah kondisi perekonomian global yang tidak menentu ini sangat penting aliran modal asing. Khususnya bagi nilai tukar Rupiah yang pada tahun lalu terus tertekan oleh dolar AS.

"Rupiah akan stabil dan cenderung menguat. Terbukti dari masuknya modal asing di tengah kondisi global yang tidak menentu," ucapnya.

 Baca Juga: Dana Asing Rp6,8 Triliun Masuk Indonesia

Perry menjelaskan, aliran dana asing yang masuk juga tidak terlepas dari usaha pemerintah dan seluruh lembaga terkait untuk menstabilkan perekonomian dalam negeri. Sehingga banyak investor asing mulai tertarik untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

"Ini sejalan dengan konsistensi kebijakan ekonomi yang dilakukan BI, pemerintah dan OJK. Serta mekanisme pasar valuta asing yang lebih baik karena instrumen domestic non deliverable forward," ujar Perry

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini