Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Musim Gugur Ritel Nasional, Diliputi Ketidakpastian

Koran SINDO , Jurnalis-Minggu, 27 Januari 2019 |11:31 WIB
   Musim Gugur Ritel Nasional, Diliputi Ketidakpastian
Foto: Reuters
A
A
A

JAKARTA - Beberapa peritel mengumumkan akan menutup gerainya di pasar domestik. Terbaru, supermarket di bawah naungan Hero akan menutup beberapa gerainya, sedangkan Central Department Store di Neo Soho Mall dan Centro Department Store di Plaza Semanggi menutup gerainya.

Dalam kurun dua tahun terakhir, pasar ritel nasional terus diliputi ketidakpastian. Meskipun Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengklaim pasar ritel tak terpengaruh daya beli, namun kenyataannya banyak ritel tumbang.

Banyak yang berpendapat, e-commerce menjadi pemicu rontoknya ritel. "Tren belanja e-commerce memang meningkat, tapi jumlahnya masih kecil," tutur ekonom Institute for Development and Finance (Indef) Aviliani.

 Baca Juga: Dunia Berubah, E-commerce Perkasa dan Ritel Berguguran

Mungkin, kata dia, dalam 10 tahun ke depan akan meningkat karena kelas menengah dan milenial mulai menjadi kelas menengah. Menurut Aviliani, apabila ada sektor ritel mati, berarti peritel tidak bisa berinovasi mengikuti pasar.

Aviliani menyarankan agar para peritel mulai berinvestasi untuk menata ulang sistem distribusi dan bisnisnya serta menciptakan customer experience yang menarik.

CEO PT Panen Lestari Internusa (PLI) Handaka Santosa menegaskan, meski banyak ritel bertumbangan, namun perusahaannya akan melakukan ekspansi dengan membuka gerai baru di Medan. Pengelola gerai ritel SOGO ini optimistis pasar ritel konvensional akan terus bertumbuh.

Sebagai gerai ritel terkemuka di Indonesia yang telah berdiri selama hampir 29 tahun, SOGO Department Store selalu berusaha memanjakan para pelanggan setianya dengan beragam pelayanan dan program menarik. Termasuk melakukan inovasi belanja offline dan online.

 Baca Juga: Banyak Ritel Gulung Tikar, Menko Darmin: Ada E-Commerce

Namun, Handaka mengingatkan ritel konvensional dan online harus diperlakukan setara. Soal perpajakan dan standar kualitas barang termasuk aspek yang harus sejajar perlakuannya. “SNI (Standar Nasional Indonesia) online bagaimana? Padahal, kalau di kami, barang-barang untuk di bawah usia dua tahun, semua ada SNI-nya,” kata Handaka.

Terkait hitungan pajak, Handaka menuturkan, peritel besar seperti perusahaannya menyumbang pajak besar. Mereka dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN) hingga 20% untuk setiap meter persegi lahan toko. “Kami sewa di sini (mal), kami bayar pajak dari setiap meter perseginya. Untuk 1 meter persegi saja, kami sudah harus bayar 20%,” tuturnya.

 Baca Juga: 10 Perusahaan Ritel Terbesar di Dunia, Pendapatannya Tembus Ribuan Triliun Rupiah

Selain itu, Handaka menyatakan, peritel konvensional juga berkontribusi besar dalam lapangan kerja. Ia memandang ironis jika peritel konvensional justru hanya mendapatkan sedikit perlindungan. Menurut Handaka, pihaknya berencana membuka gerai baru di Medan dengan luas area 10.000 meter persegi. Gerai itu diperkirakan bisa mempekerjakan minimal 400 orang.

Meski penuh tantangan terutama di era digital, Handaka mengaku, peritel konvensional tidak merasa tersaingi dengan toko daring karena pihaknya juga telah merambah sistem online. “Kami tidak takut dengan online, hanya saja kami ingin fairness (keadilan),” katanya.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement