Lagarde mengatakan, negara eksportir minyak dapat mengikuti contoh negara-negara kaya sumber daya lainnya seperti Chili dan Norwegia dalam menggunakan aturan fiskal untuk melindungi prioritas, seperti pengeluaran sosial, dari volatilitas harga komoditas.
Di negara-negara importir minyak di kawasan Timur Tengah, kata dia, pertumbuhan ekonomi telah meningkat, tetapi masih di bawah level sebelum krisis keuangan global. Defisit fiskal pun tetap tinggi, dan utang publik meningkat pesat dari 64% PDB pada 2008 menjadi 85% satu dekade selanjutnya. Utang publik saat ini menurutnya melebihi 90% dari PDB di hampir setengah dari negara-negara ini.
Berbicara mengenai ekonomi global, Lagarde mengatakan bahwa IMF tidak melihat resesi global di cakrawala. Tetapi risiko untuk pertumbuhan global meningkat karena ketegangan perdagangan dan pengetatan kondisi keuangan. IMF merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi global tahun ini menjadi 3,5% atau lebih rendah 0,2% dari perkiraan yang dilansir sebelumnya, Oktober lalu.
"Ini tidak mengherankan, lingkungan global yang lebih lemah telah berdampak pada kawasan melalui berbagai saluran, perdagangan, pengiriman uang, aliran modal, harga komoditas, dan kondisi pembiayaan," katanya.
(Sindonews)
(Kurniasih Miftakhul Jannah)