nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jelang Debat Capres, Mantan Wamendag Penasaran Program Kesejahteraan Petani

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 14 Februari 2019 15:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 14 320 2017910 jelang-debat-capres-mantan-wamendag-penasaran-program-kesejahteraan-petani-vSUtPSBBHB.jpg Foto: Petani (Dok Kementan)

JAKARTA - Dua calon presiden (capres) yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto akan melangsungkan debat capres yang kedua pada 17 Februari. Tema yang akan diangkat pada debat kedua ini adalah mengenai energi, pangan, Sumber Daya Alam (SDA), Lingkungan Hidup dan Infrastruktur.

Pengamat Pangan dan Pertanian Institute Pertanian Bogor (IPB) Bayu Krisnamurthi mengatakan, dalam debat kedua nanti yang menjadi sorotan adalah bagaimana kedua capres ini memiliki fokus untuk mensejahterkan petani. Kedua Calon Presiden harus memiliki program yang jelas untuk mensejahterakan petani.

"Yang jadi masalah adalah siapa yang jadi perhatian kita, kesejahteraan petani," ujar Bayu yang juga pernah menjabat wakil menteri perdagangan (wamendag) saat ditemui di Jakarta, Kamis (14/2/2019).

 Baca Juga: Produksi Pangan Meningkat, KTNA: Ini Prestasi Petani Kita

Menurut Bayu, persoalan impor dianggap sudah tidak terlalu seksi untuk dibahas dalam debat capres kedua nanti. Karena menurutnya meskipun angka impor tinggi, namun jika kesejahteraan petani meningkat maka tidak ada yang perlu di khawatirkan.

"Nah kalau impor impor banyak kesejahteraan petani yang kena. Bagaimana kita bisa tetap impor penuhi impor tapi tidak mengganggu kesejahteraan petani," ucapnya.

Bayu juga menyebut jika impor pangan yang dilakukan selama ini adalah untuk memenuhi kebutuhan masyrakat. Sehingga tidak ada lagi yang namanya kelangkaan pangan yang bisa berakibat pada kenaikan harga di pasaran.

"Impor adalah sesuatu yang tidak kita senangi tapi kalau harus dilakukan ya kita lakukan. Itu sebabnya untuk lebih konsentrasi pada peningkatan peningkatan produktivitas petani," kata Bayu.

 Baca Juga: Nilai Tukar Petani Naik Tipis 0,16% di Januari 2019

Lagi pula lanjut Bayu, impor merupakan sesuatu yang tidak terhindari dalam mekanisme perdagangan dunia. Jika suatu negara sangat anti terhadap impor, maka bisa jadi negara lain pun akan melakukan aksi balasannya dengan menolak produk-proudk ekspor Indonesia.

"Saya kira impor tidak bisa dihindari disampingnya kita ingin ekspor, kalau kita mau ekspor berarti ada negara lain yang impor. Artinya kita tidak boleh anti impor," katanya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini