nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rupiah Keok Lagi Imbas Lambannya Perundingan Dagang AS-China

Jum'at 15 Februari 2019 17:28 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 02 15 278 2018496 rupiah-keok-lagi-imbas-lambannya-perundingan-dagang-as-china-IfejDQAYl0.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Bank Indonesia memandang lambannya hasil perundingan perdagangan antara AS dan China pada Jumat ini di Beijing, China, turut memberikan sentimen negatif bagi pelemahan mata uang di kawasan termasuk Rupiah yang terperosok ke Rp14.126 per USD.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah mengatakan perhatian pelaku pasar pada Jumat ini tersita pertemuan antara Wakil Perdana Menteri China Liu He dengan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin di Beijing, China.

"Pelemahan mata uang regional dipengaruhi concern (perhatian) pasar terhadap progres perundingan dagang yang berjalan lambat," kata Nanang seperti dikutip Antaranews, Jakarta, Jumat (15/2/2019).

 Baca Juga: Rupiah Terus Terpuruk ke Rp14.154/USD

Pertemuan antara dua negara ekonomi raksasa itu menimbulkan dinamika di pasar keuangan pada Jumat pagi.

Dinamika itu antara lain aksi pembelian aset kembali (short covering) oleh perbankan yang lazimnya menimbulkan koreksi teknikal di pasar terhadap mata uang.

"Jadi, (pelemahan rupiah) lebih ke koreksi teknikal. Pelemahan rupiah lebih disebabkan short covering perbankan di tengah pelemahan seluruh mata uang regional hari ini," kata dia.

Short Covering merupakan aktivitas pelaku pasar dengan membeli kembali aset di pasar dengan tujuan untuk melindungi atau meminimalisasi potensi kerugian atas penjualan yang dilakukan sebelumnya karena pergerakan harga.

Sejalan dengan ekspetasi pasar terhadap perundingan dagang antara AS dan China, nilai tukar rupiah stagnan di Jumat siang setelah melemah sejak perdagangan pada Jumat pagi.

Pada 15.30 WIB, atau menjelang penutupan, rupiah diperdagangkan di Rp14.126 per USD, atau melemah 30 poin dari nilai pembukaan pada Jumat pagi.

 Baca Juga: IHSG Melorot ke 6.389 Sambut Akhir Pekan

Sementara, terkait sentimen domestik akibat defisit neraca perdagangan Indonesia periode Januari 2018 yang menembus USD1,16 miliar. Nanang menganggap hal tersebut tidak menjadi sentimen yang memperlemah rupiah.

Pasalnya, defisit neraca perdagangan yang mencerminkan masih lesunya ekspor itu sudah diperkirakan pelaku pasar, meskipun besaran defist yang timbul memang lebih besar daripada ekspetasi pasar.

"Bukan disebabkan defisit perdagangan USD1,16 miliar, sedikit lebih tinggi dari ekspetasi pasar yang USD917 juta," ujar Nanang.

Badan Pusat Statistik (BPS) pada Jumat ini mengumumkan nilai ekspor Indonesia pada Januari 2019 sebesar USD13,87 miliar atau turun 4,7% secara tahunan.

Sementara, nilai impor sebesar USD15,03 miliar atau turun 1,83% secara tahunan. Dengan demikian, neraca perdagangan pada Januari 2019 mengalami defisit USD1,16 miliar.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini