JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) menerima laporan ada beberapa klub sepak boladalamnegeri yang berencana melantai di bursa saham (Initial Public Offering/IPO). Salah satunyaadalah PT Persija Jaya Jakarta (Persija Jakarta).
Sementara itu Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada Januari 2019 mengalami defisit sebesar USD1,16 miliar. Defisit ini lebih tinggi dari realisasi pada Desember 2018 yang defisit sebesar USD1,03 miliar.
Kemudian ada reaksi Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution yang menanggapi pernyaatan Calon Presiden nomor urut 02 tentang harga beras Indonesia yang mahal. Menurut Darmin, dibandingkan negara jepang, harga beras di Indonesia relatiflebih murah.
Ketiga berita tersebut merupakan berita-berita populer selama akhir pekan kemarin di kanal Okezone Finance. Berikut berita selengkapnya:
Persija Berencana IPO, BEI: Kami Siap Bantu

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan siap mendukung dan membantu rencana PT Persija Jaya Jakarta (Persija) melantai di bursa saham pada tahun ini.
Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi mengatakan menyambut baik rencana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) Persija tersebut dan menilainya sebagai sebuah langkah maju.
"Kami siap mendukung dan membantu prosesnya lebih baik. Ini kan pionir, pasti ada proses yang harus betul-betul dipastikan supaya mereka tidak kesulitan," ujar Hasan dilansir dari Antaranews.com, Senin (11/2/2019).
Menurut dia, dengan menjadi perusahaan terbuka yang tercatat di bursa, hal tersebut tidak hanya dapat mendorong kinerja Persija tapi juga diharapkan dapat meningkatkan aspek tata kelola dan akuntabilitas di mata publik.
"Apalagi untuk segmen industri Persija, yang kepemilikan dan keterikatannya dengan publik cukup tinggi," ujarnya.
Secara umum, kata dia, sebelumnya BEI pernah membahas soal kemungkinan industri kreatif, termasuk Persija, untuk dapat masuk ke pasar modal. Hasan menilai industri kreatif perlu dibantu dari sisi kepatuhan (compliance) dan pemenuhan standar akuntansinya.
"Karena ini industrinya unik ya. Kami juga sebetulnya ada pembicaraan dengan Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) untuk katakanlah nanti pada saatnya akan terbit semacam standar akuntansi untuk industri kreatif," katanya.
Untuk dapat melakukan IPO, layaknya perusahaan lain yang sudah tercatat di BEI, Persija juga harus memenuhi persyaratan pencatatan saham di BEI baik dari sisi bentuk badan hukum, masa operasional, laba usaha, aset bersih yang dapat diukur (net tangible aset), dan pendapat laporan keuangan audit dua tahun terakhir.
"Sekarang persyaratannya sama, tidak ada pembedaan secara khusus. Nanti apakah mereka layak katakanlah di papan utama atau pengembangan, kita lihat prosesnya," ujar Hasan.
Hasan menambahkan, rencana IPO Persija ini dapat menjadi inspirasi baik bagi klub sepakbola lainnya atau industri kreatif lainnya, yang selama ini memiliki nilai (value) di mata publik luas karena memiliki basis penggemar fanatik dan besar.
"Di balik penggemar yang besar itu, ada value karena fanatisme publik pendukungnya sebetulnya secara going concern atau prospek pertumbuhan jangka panjang itu cukup menjanjikan. Tinggal tata kelola dan transparansi informasi ke publik, terutama dalam konteks kinerja keuangan harus kita benahi," kata Hasan.
Sebelumnya, Direktur Utama Persija Kokoh Afiat mengatakan Persija akan melantai di bursa saham dengan melakukan IPO sebelum akhir Desember 2019. Dengan berada di bursa saham, Persija berharap dapat menambah pundi-pundi pendapatan mereka yang beberapa tahun terakhir dinilai "merah".