nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

IPO, Perusahaan Cokelat Ini Pasang Harga Rp178-Rp198 per Saham

Kamis 21 Februari 2019 11:43 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 02 21 278 2020931 ipo-perusahaan-cokelat-ini-pasang-harga-rp178-rp198-per-saham-AgKmFPaFkU.JPG Wahana Interfood Nusantara (Foto: Neraca)

JAKARTA – Perusahaan produsen cokelat, PT Wahana Interfood Nusantara menawarkan harga penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) di kisaran Rp178 hingga Rp198 per saham. Perseroan menjelaskan, harga penawaran yang diberikan merupakan valuasi harga forward PE ratio 2021 sebesar 8,2x sampai 9,1x.

Kata Corporate Finance PT UOB Kay Hian Sekuritas sebagai penjamin emisi, Rudi Ho, valuasi harga saham ditawarkan karena pembelian lahan dan mesin baru, serta pembangunan pabrik dilakukan pada 2019 selesai 2020. Adapun, pabrik ditargetkan beroperasi pada 2020, tetapi belum maksimal.

“Tahun 2020 telah beroperasi tapi belum maksimal. Baru di 2021 mesin baru telah beroperasi penuh," katanya, dikutip dari Harian Neraca, di Jakarta, Kamis (20/2/2019).

Baca Juga: Bank Kalsel Siap IPO pada 2020

Dengan kisaran harga tersebut, perseroan berpeluang mengantongi dana hasil IPO sebesar Rp29,90 miliar-Rp33,26 miliar.Pada aksi korporasi tersebut, perseroan bakal melepas sebanyak-banyaknya 168 juta saham baru atau 33,07% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan.

Adapun, dana yang diperoleh dari IPO setelah dikurangi biaya emisi, sekitar 23,03% digunakan untuk belanja modal berupa tanah seluas 6.280 meter persegi yang berlokasi di Jalan Raya Parakan Muncang-Tanjungsari, Desa Mekarbakti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Lebih lanjut, sekitar 15,81% digunakan untuk pembayaran uang muka kepada kontraktor untuk membangun pabrik seluas 2.291,60 meter persegi di Jalan Raya Parakan Muncang-Tanjungsari, Desa Mekarbakti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Pembangunan pabrik direncanakan mulai Juni 2019.Sedangkan, 61,16% sisanya akan digunakan sebagai pembayaran uang muka pembelian mesin baru untuk produksi. Total nilai pembelian mesin baru sebesar Rp18,56 miliar.

Baca Juga: Fakta-Fakta IPO Persija hingga Keuntungannya

Direktur Utama Wahana Interfood Nusantara, Reinald Siswanto menuturkan, nantinya dengan beroperasinya mesin baru tersebut, perseroan akan memiliki kapasitas produksi cokelat dari 6000 ton saat ini menjadi 10.600 ton. Kemudian seiring dengan peningkatan kapasitas produksi, maka pendapatan di tahun 2021 ditargetkan tumbuh 60% menjadi Rp 249 miliar. “Bila di tahun 2018 pendapatan sebesar Rp 152 miliar, maka di tahun 2021 diharapkan tumbuh 60%,”ujarnya.

Pencapaian penjualan pada 2018 sebesar Rp152 miliar, naik 9,43% dari penjualan pada 2017 sebesar Rp138,9 miliar. Sekitar 1% atau Rp1,52 miliar berasal dari penjualan ekspor.Perseroan menyakini dengan peningkatan kapasitas produksi tersebut bisa meraup potensi pasar cokelat di dalam dan di luar negeri. Apalagi, konsumsi cokelat di Indonesia baru 1,5 kilogram pertahunnya atau rendah dibandingkan konsumsi cokelat di negara eropa mencapai 14 kilogram pertahunnya. Maka melihat peluang pasar lokal yang cukup besar, lanjutnya Reinald, perseroan optimis bisa menjadi pemain tiga besar di industri makanan dan minuman (mamin) kedepannya.

Tahun ini, lanjutnya, perseroan menargetkan laba sebesar Rp 3 miliar atau sama dengan target di 2018 sebesar Rp 3 miliar. Sementara di tahun 2020, laba Wahana Interfood ditargetkan sebesar Rp 2,4 miliar atau turun dibandingkan tahun sebelumnya karena besarnya biaya yang dikeluarkan untuk investasi mesin dan pabrik baru. Selanjutnya di tahun 2021, laba ditargetkan Rp 11 miliar seiring dengan beroperasinya pabrik baru.

Kemudian penjualan, kata Reinald Siswanto, perseroan menargetkan Rp 178 miliar dan di tahun 2020 sebesar Rp 211 miliar. Maka untuk memenuhi target penjualan tersebut, perseroan akan terus memperluas pasar ekspor selain tetap memenuhi prioritas pelanggan yang sudah ada. Asal tahu saja, Wahana Interfood menargetkan pasar penjualan ekspor di 2021 tumbuh 20%.”Pasar ekspor kita lebih banyak ke Asia, seperti Cina, Jepang dan Korea,”ungkap Reinald.

Kedepannya, perseroan membidik pasar ekspor baru di Australia dan Timur Tengah. Meskipun sudah ada konsumen yang meminta, menurut Reinald, perseroan belum bisa memenuhi pasar ekspor karena keterbatasan produksi sehingga tidak menyanggupi permintaan pasar ekspor.

1 / 2
GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini