Menperin: Peningkatan SDM Bisa Memacu Produktivitas dan Daya Saing Industri

Senin 25 Februari 2019 13:20 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 25 320 2022465 menperin-peningkatan-sdm-bisa-memacu-produktivitas-dan-daya-saing-industri-uVhKe9G40a.jpeg Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (Foto: Antara)

JAKARTAMenteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengajak generasi muda dan para sivitas akademika untuk berpartisipasi dan mengambil peran secara aktif dalam melaksanakan peta jalan Making Indonesia 4.0. Misalnya, ikut berperan dalam memilih lighthouses atau champions untuk masing-masing industri prioritas yang telah dipilih.

Konsep lighthouse ini secara resmi telah diadopsi oleh World Economic Forum dalam dokumen Shaping the Future of Advanced Manufacturing & Production sebagai hasil dari World Economic Forum Annual Meeting 2019. “Sebuah lighthouse atau champion akan menjadi role model sekaligus juga mitra dialog pemerintah dalam implementasi industri 4.0 di Indonesia,” ungkapnya dilansir Harian Neraca, Senin (25/2/2019).

Baca Juga: RI Punya Potensi Besar Implementasikan Industri 4.0

Guna mendukung hal tersebut, diperlukan pula langkah dalam upaya peningkatan kompetensi SDM. Langkah ini sesuai arahan Presiden Joko Widodo, yang menginginkan pembangunan nasional saat ini difokuskan pada pembangunan SDM yang berkualitas, sehingga perlu dilakukan berbagai program pendidikan dan pelatihan vokasi secara lebih masif.

“Peningkatan kompetensi SDM menjadi salah satu program prioritas karena dapat memacu produktivitas dan daya saing sektor industri nasional,” tegas Menperin. Penyiapan menghadapi perkembangan industri 4.0, di antaranya melalui penguatan pendidikan vokasi industri.

Upaya yang telah dijalankan oleh Kemenperin, antara lain melalui pendidikan vokasi berbasis kompetensi menggunakan sistem ganda atau dual system, pembangunan politeknik industri atau akademi komunitas di kawasan industri, serta program pendidikan vokasi industri yang link and match antara SMK dengan industri.

airlangg

“Untuk program link and match antara SMK dengan industri, yang telah diluncurkan sejak tahun 2017, kami telah menjangkau wilayah Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi,” ungkapnya. Sejak digulirkan pada tahun 2017, program ini telah mampu menggandeng sebanyak 2.074 SMK dan 745 perusahaan dengan melibatkan sebanyak 441.800 siswa.

Sementara itu, penyelenggaraan program pelatihan industri berbasis kompetensi dengan sistem 3 in 1 (Pelatihan, Sertifikasi, dan Penempatan Kerja) ditargetkan dapat menjaring 72.000 peserta pada Tahun 2019, serta program Diploma I yang lulusannya langsung terserap bekerja di industri dengan target 600 mahasiswa.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Sosial merealisasikan kesepakatannya untuk memacu kompetensi para penyandang disabilitas agar dapat bekerja di sektor industri. Upaya ini dilakukan melalui pelaksanaan program Diklat 3 in 1 (pelatihan, sertifikasi dan penempatan kerja).

“Diklat ini merupakan tindak lanjut dari implementasi Nota Kesepahaman yang saya tandatangani bersama Bapak Mensos, akhir Desember lalu. Selain itu, amanat dari Presiden agar penyandang disabilitas bisa mendapat kesempatan yang sama,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Pembukaan Diklat 3 in 1 bagi Penyandang Disabilitas di Akademi Komunitas Tekstil dan Produk Tekstil, Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (31/1).

Menurut Menperin, Diklat 3 in 1 bagi penyandang disabilitas kali ini diarahkan pada sektor industri garmen dan alas kaki. Sebanyak 268 orang menjadi peserta, yang meliputi 204 disabilitas sensorik rungu wicara, 39 disabilitas fisik, dan 25 disabilitas intelektual. “Kerja sama Kemenperin dan Kemensos ini terwujud dalam satu bulan, artinya bisa kerja cepat untuk kaum disabilitas,” ujarnya.

Baca Juga: Menperin: Indonesia Sudah Siap Era Industri 4.0

Pelaksanaan Diklat tersebut diselenggarakan secara in house di Balai Diklat Industri Kemenperin dan on site di perusahaan. “Untuk itu, kami terus mendorong perusahaan-perusahaan industri untuk memberikan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas sesuai dengan bidang pekerjaan yang bisa dilakukan. Kami juga mengapresiasi kepada para asosiasi yang telah mendukung,” tuturnya.

Airlangga mengemukakan, selama ini sektor industri tekstil dan alas kaki mampu memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional, baik itu melalui penerimaan devisa dari ekspor maupun penyerapan tenaga kerja yang jumlahnya cukup besar.

“Apalagi industri tekstil merupakan salah satu sektor yang diprioritaskan pengembangannya dalam memasuki era industri 4.0,” ujarnya. Kemenperin mencatat, kinerja positif industri tekstil dan produk tekstil (TPT), tercermin dari nilai ekspor produk TPT nasional yang menembus hingga USD11,12 miliar pada Januari-Oktober 2018, naik 7,1% dibanding periode yang sama di tahun lalu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini