nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tantangan Ekonomi RI 2019 Tak Seberat 2018

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 27 Februari 2019 11:10 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 27 20 2023394 tantangan-ekonomi-ri-2019-tak-seberat-2018-IuFIYI8bQJ.jpg Foto: Giri Hartomo

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyebut jika ekonomi Indonesia di 2019 bisa sedikit lebih stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut menyusul The Fed yang tidak lagi seagresif dari tahun lalu untuk menaikan suku bunga acuan.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan, pada 2018 kebijakan The Fed menjadi sangat krusial bagi negara-negara emerging market seperti Indonesia. Sebab beberapa kebijakan yang diambil oleh bos The Fed bisa sangat berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia khususnya nilai tukar.

Apalagi, ada beberapa kebijakan yang diambil oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menimbulkan perang dagang dengan China. Dua kebijakan ini sangat berpengaruh bagi perekonomian Indonesia pada 2018.

"Suasana emerging market termasuk Indonesia memang sangat menantang di 2013-2018. Ditambah dengan perang dagang AS-China. Jadi faktor Trump sangat dominan," ujarnya di Perbanas Institute, Jakarta, Rabu (27/2/2019).

 Baca Juga: Ekonomi Lebih Sehat Jika Investasi dan Ekspor Manufaktur Meningkat

Menurut Mirza, dengan meredanya agresivitas The Fed untuk menaikan suku bunga acuannya, maka dana modal asing (capital inflow) yang masuk akan semakin besar. Sedangkan pada 2018, kenaikan suku oleh The Fed membuat arus modal justru banyak yang kembali menuju Amerika Serikat.

"Faktor ini insya Allah akan membuat stabilitas di Indonesia secara moneter, kita mulai lihat capital inflow mulai masuk lagi. Ini akan membawa stabilitas dan membawa kepada ekonomi moneter lebih mudah dibandingkan 2013-2018," katanya.

Meskipun begitu lanjut Mirza, Bank Indonesia bersama dengan Pemerintah terus melakukan upaya-upaya untuk menstabilkan perekonomian di dalam negeri. Misalnya dari sisi neraca perdagangan dan pembayaran.

 Baca Juga: 2 Bulan Jelang Pilpres, Sri Mulyani Klaim Ekonomi RI Kuat

Mirza menyebut, pemerintah bersama dengan Bank Indonesia berusaha untuk menekan agar neraca pembayaran agar tidak defisit. Salah satu caranya adalah dengan melakukan pengendalian ekspor dan impor.

"Kami masih tetap mendoakan pengendalian ekspor impor barang dan jasa yaitu mengendalikan defisit. Supaya defisit barang dan jasa yang merupakan defisit valas harus kita kendalikan karena berpengaruh pada stabilitas kurs," ujarnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini