nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Di Depan Pengusaha Muda, Sri Mulyani Singgung Trump hingga Ekonomi China

Taufik Fajar, Jurnalis · Rabu 27 Februari 2019 14:26 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 27 20 2023498 di-depan-pengusaha-muda-sri-mulyani-singgung-trump-hingga-ekonomi-china-q5EKuEGQ1j.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut ada beberapa hal yang harus dihadapi pengusaha muda pada tahun ini, seperti tantangan ekonomi global dan dalam negeri.

"Tahun 2019 ini diperkirakan ekonomi global agak melemah. Kemarin Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menyampaikan bahwa ekonomi Amerika mungkin masih akan terjaga pertumbuhannya sekitar 2,5%," ujarnya di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Selasa (27/2/2019).

Namun, lanjut dia, ekonomi dunia tidak akan sama dengan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS). Di mana pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini sudah direvisi dua kali dari yang tadinya 3,9%, turun menjadi 3,7% dan sekarang menjadi 3,5%.

"Faktor yang memengaruhi adalah lokomotif pertumbuhan dan momentum pertumbuhan di beberapa bagian dunia mengalami pelemahan,” katanya.

Baca Juga: Wapres JK Ingatkan Pentingnya Transparansi dan Akuntabilitas Antarnegara

Kemudian ekonomi di Eropa melemah. Apalagi ditambah Brexit yang belum ada kepastian mengenai bagaimana bentuk votingnya dan kebijakannya.

Sedangkan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), sebagai ekonomi terbesar kedua sesudah AS terus mengalami adjustment atau penyesuaian yang itu artinya mereka akan mengalami pelemahan.

"Beberapa prediksi sekarang bahkan sudah melakukan forecast untuk perekonomian RRT mungkin pertumbuhannya hanya di sekitar 6 atau bahkan di bawah 6%. Kita selalu melihat ekonomi RRT yang bisa tumbuh 7%, 8%, bahkan waktu itu 9%," katanya.

Baca Juga: BI: Ketidakpastian Pasar Keuangan Global Berkurang

Oleh karena itu, kata Sri Mulyani hal ini tidak bisa dihindarkan karena RRT memang melakukan penyesuaian internal ekonominya untuk makin menopang ekonominya.

"Seperti yang terjadi di dalam policy-nya Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa RRT melakukan unfair melalui berbagai macam policy pemerintah yang menopang di BUMN dan subsidinya,” tuturnya.

Kemudian di Asia, India yang sekarang juga mendekati Pemilu juga tidak terbebas dari sedikit koreksi perekonomian ke bawah tidak setinggi 8% namun tetap lebih tinggi di atas 6%.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini