JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membeberkan alasan investor asing bakar uang di unicorn Indonesia. Salah satu hal yang diincar dari mereka adalah data dari masyarakat Indonesia
Disisi lain, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berencana menyiapkan bus di Jalan tol Trans Jawa. Hal tersebut menyusul adanya kenaikan tiket pesawat .
Wakil Presiden Jusuf Kalla buka suara terkait sifat Presiden Joko Widodo. Menurutnya, Presiden Jokowi sama sekali tidak mempunyai sifat otoriter dalam hal apapun termasuk dalam menetapka kebijakan.
Ketiga berita tersebut merupakan berita-berita populer selama akhir pekan kemarin di kanal Okezone Finance. Berikut berita selengkapnya:
Investor Asing Bakar Uang di Go-Jek Cs, Sri Mulyani: Ingin Tahu Data Kita

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan alasan mengapa banyak sekali investor asing yang berminat pada perusahaan teknologi rintisan Indonesia skala besar dengan valuasi USD1 miliar atau unicorn. Di mana saat ini, ada empat unicorn, Traveloka, Bukalapak, Go-Jek hingga Tokopedia.
Dia mengatakan, salah satu yang diincar oleh investor tersebut adalah data kegiatan ekonomi masyarakat. Menurutnya kepemilikan data ini dapat diolah menjadi produk yang bisa dipasarkan di Indonesia.
"Begitu banyak unicorn kita yang masih baru, begitu banyak orang investasi di sana, mereka hanya membakar uang, karena mereka pengen tahu data kita," ujarnya saat ditemui di Kantor BPJS Kesehatan, Jakarta, Senin (25/2/2019).
Menurutnya, jika diibaratkan, big data sama seperti sektor pertambangan. Dahulu, banyak sekali orang-orang kaya dan investor asing yang mengincar pertambangan Indonesia.
Bahkan muncul sebuah istilah mereka yang kaya adalah mereka yang menguasai tambang. Namun untuk saat ini istilah tersebut sudah berubah, sebab big data menjadi hal yang sangat penting untuk menguasai lapangan.
"Data is a new mining. (data adalah tambang baru) kalau orang kaya dia harus menguasai tambang namun sekarang kalau orang yang terkaya semua adalah data," katanya.
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menjelaskan, saat ini sudah tidak diperlukan lagi sebuah kuesioner untuk mendapatkan data. Sebab seluruh data sudah tersedia dan tercapture lewat teknologi digital.
"Data itu sebelumnya kalau kita ingin tahu siapa yang menggunakan menggunakan survei. Sekarang tidak perlu lewat kuesioner tapi udah di capture pakai teknologi," ujarnya.
Dirinya mencontohkan, pemerintah bisa mengetahui berapa jumlah masyarakat yang biasa membeli martabak. Tak hanya itu, pemerintah juga bisa mengetahui siapa saja dan jenis martabak apa yang paling banyak disukai oleh masyarakat.
Pemerintah cukup meminta datanya kepada perusahaan aplikasi seperti Go-Jek ataupun Grab. Karena kedua perusahaan itu memiliki layanan pesan antar makanan yang mana di dalamnya sudah tercapture aktivitas penggunanya.
"Karena transaksi sekarang menggunakan digital itu transaksi sudah ter-capture. Saya tahu hari ini berapa orang yang beli martabak, martabak apa yang dia suka," kata wanita yang kerap disapa Ani.