JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut Indonesia harus bisa mencari pasar ekspor manufaktur lain selain Amerika Serikat (AS). Sebab menurutnya, ekonomi Amerika Serikat (AS) pada tahun ini tidak setinggi tahun lalu pertumbuhannya.
Pada tahun lalu, ekonomi Amerika Serikat sendiri hanya tumbuh 2,9%. Meskipun di bawah target yang ditetapkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yakni sebesar 3%, namun capaian tersebut masih disebut positif mengingat gejolak ekonomi dunia yang terjadi pada tahun lalu.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi AS 2018 Gagal Capai Target
Namun pada tahun ini, perekonomian Amerika Serikat diperkirakan tumbuh melambat yakni dikisara 2,3%. Bahkan dari prediksi beberapa ekonom dunia, ekonomi Amerika Serikat hanya tumbuh sekitar 2% saja.
"Tahun lalu itu ekonomi AS tumbuh 2,9% di atas 2,2%. Kalau bapak ibu artikan bahwa sudah betul-betul sangat tinggi. Karena ekonomi growth potensial itu 2,2%," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Senin (4/3/2019).
Ada beberapa hal yang membuat ekonomi Amerika Serikat pada tahun ini akan tumbuh melambat dibandingkan tahun lalu. Salah satunya adalah adanya injeksi fiskal yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat menyusul sempat shutdown-nya ekonomi mereka.
"Karena Donald Trump injeksi fiskal. Dampaknya solid fiskalnya tidak bisa dilakukan government shutdown sehingga stimulus fiskalnya tidak bisa continue," katanya.
Di sisi lain lanjut Perry, adanya perang dagang dengan China juga membuat pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat tumbuh melambat. Karena indsutri yang ada disana kesulitan mencari bahan baku murah yang selama ini berasal dari China.
Baca Juga: Rahasia 'Jamu' Ala Gubernur BI untuk Stabilkan Rupiah
Tak hanya dengan China, beberapa negara juga sempat terlibat perang dagang dengan negara yang terkenal dengan sebutan negeri Paman Sam tersebut. Bahkan Indonesia pun sempat diultimatum oleh Amerika Serikat dikarenakan ada beberapa kebijakan yang dianggap merugikan AS dalam mengekspor produk hasil pertaniannya.
Oleh karena itu lanjut Perry, dirinya mendorong agar industri manufaktur mencari pasar-pasar baru dalam mengkspor manufakturnya. Di samping itu juga produk ekspor menuju Amerika Serikat khususnya sektor Manufaktur harus bisa ditingkatkan lagi agar menghasilkan value untuk negara.
"Kita harus giat menembus pasar AS dan juga cari pasar lain bagi bapak, ibu yang bergerak ekspor manufaktur," ucapnya.
(Feby Novalius)