nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rahasia 'Jamu' Ala Gubernur BI untuk Stabilkan Rupiah

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 04 Maret 2019 14:12 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 03 04 278 2025545 rahasia-jamu-ala-gubernur-bi-untuk-stabilkan-rupiah-5CZgx2QJ8K.jpg Bank Indonesia (Foto: BI)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) optimis nilai tukar Rupiah lebih stabil dibandingkan tahun lalu.

Seperti diketahui, pada tahun lalu Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat sempat mengalami goncangan. Bahkan Rupiah sempat berada di level Rp15.000 per USD.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, pada waktu belakangan ini Rupiah sudah mulai stabil di angka Rp14.000 per USD. Bahkan sesekali menyentuh angka Rp13.900 per USD.

"Tahun lalu nilai tukar sempat Rp15.000-an, sekarang stabil di Rp14.000-an perkiraan kita ke depan Rupiah akan stabil meski sekarang masih terlalu murah," ujarnya dalam diskusi di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Senin (4/3/2019).

Baca Juga: Dolar AS Tekan Rupiah ke Rp14.155 per USD

Perry menambahkan, pihaknya menyiapkan jamu khusus agar nilai tukar Rupiah bisa sehat dan stabil. Setidaknya ada lima resep jamu yang disiapkan oleh Bank Indonesia agar nilai tukar Rupiah bisa terus stabil di level Rp14.000 per USD.

"Jamu kebijakan Moneter. Kapan harus didorong, kapan harus dikendalikan likuiditasnya. Jamu kebijakan makro prudensial. Jamu sistem pembayaran. Jamu pengendalian pasar keuangan. Jamu keuangan syariah," ujarnya.

Menurut Perry, pihaknya akan terus mendorong modal asing yang masuk untuk mengurangi defisit transaksi berjalan. Sehingga ketika nilai tukar Rupiah mengalami gejolak bisa dibiayai lewat devisa yang dimiliki.

"Faktor yang pertama itu aliran modal asing yang masuk bisa membiayai CAD kita bisa ada surplus devisa setidaknya kita bisa stabilkan," ucapnya.

Baca Juga: Dolar AS Menguat Tipis meski Ekonomi Tak Capai Target

Di sisi lain lanjut Perry faktor eksternal juga jadi penyebab dirinya optimis jika Rupiah bisa stabil, yang mana Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) tidak seagresif tahun lalu dalam menaikkan suku bunga. Pada tahun ini diperkirakan The Fed hanya akan menaikkan suku bunga acuannya sebanyak satu kali.

Kemudian lanjut Perry, berikutnya adalah bagaimana menjaga sistem keuangan di dalam negeri bisa tetap stabil. Tak hanya itu, pihaknya juga menyiapkan strategi khusus agar fundamental ekonomi Indonesia dan mekanisme pasar Indonesia semakin tumbuh.

"Kedua Fed Fund Rate (FFR) tahun lalu 4x sekarang paling banter 1x sehingga dari selisih suku bunga investasi di Indonesia menarik," ucapnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini