JAKARTA - Pemerintah tengah mendorong penyerapan karet dengan memanfaatkan industri ban vulkanisir. Hal ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan harga komoditas karet yang saat ini mengalami penurunan. Adapun ban vulkanisir adalah ban yang diukir ulang tapaknya untuk kemudian digunakan kembali.
Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Azis Pane menjelaskan, industri ban menjadi solusi sebab lebih cepat dan banyak menyerap karet ketimbang industri lainnya, seperti sendal atau sepatu. Hal itu berdasarkan hasil rapat koordinasi dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengenai pemanfaatan karet dalam negeri.
"Sesudah kita bicarakan ternyata yang cepat pakai karet itu adalah ban, kalau sandal dan sepatu itu hanya seberapa. Tapi kalau ban kan terus-terusan berganti, kalau enggak ganti kendaraan bisa bahaya. Oleh karena itu ban yang diperhatikan," kata dia ditemui di Gedung Kemenko Perekonomian, Rabu (6/3/2019).
Baca Juga: Pengusaha Karet Setuju jika Pemerintah Buka Pasar ke India
Aziz menjelaskan, rata-rata kebutuhan karet pada ban vulkanisir saat ini masih berkisar 96 ribu ton -100 ribu ton per tahun. Padahal, menurutnya, potensi penyerapan tersebut masih bisa berkembang lebih besar.