nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kerek Harga Karet, Pemerintah Dorong Penyerapan ke Industri Ban

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 06 Maret 2019 19:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 03 06 320 2026739 kerek-harga-karet-pemerintah-dorong-penyerapan-ke-industri-ban-OKW9gRrett.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

JAKARTA - Pemerintah tengah mendorong penyerapan karet dengan memanfaatkan industri ban vulkanisir. Hal ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan harga komoditas karet yang saat ini mengalami penurunan. Adapun ban vulkanisir adalah ban yang diukir ulang tapaknya untuk kemudian digunakan kembali.

Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Azis Pane menjelaskan, industri ban menjadi solusi sebab lebih cepat dan banyak menyerap karet ketimbang industri lainnya, seperti sendal atau sepatu. Hal itu berdasarkan hasil rapat koordinasi dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengenai pemanfaatan karet dalam negeri.

"Sesudah kita bicarakan ternyata yang cepat pakai karet itu adalah ban, kalau sandal dan sepatu itu hanya seberapa. Tapi kalau ban kan terus-terusan berganti, kalau enggak ganti kendaraan bisa bahaya. Oleh karena itu ban yang diperhatikan," kata dia ditemui di Gedung Kemenko Perekonomian, Rabu (6/3/2019).

 Baca Juga: Pengusaha Karet Setuju jika Pemerintah Buka Pasar ke India

Aziz menjelaskan, rata-rata kebutuhan karet pada ban vulkanisir saat ini masih berkisar 96 ribu ton -100 ribu ton per tahun. Padahal, menurutnya, potensi penyerapan tersebut masih bisa berkembang lebih besar.

Oleh sebab itu, pemerintah mendorong perbaikan di industri ban vulkanisir dengan melakukan pelatihan bagi para pekerjanya untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas produksinya. Saat ini sistem ini mulai berjalan, salah satunya di Kota Sukabumi.

 Baca Juga: RI Bakal Remajakan Perkebunan Karet 50.000 Ha

Aziz meyakini, dengan program ini penyerapan karet di industri tersebut akan semakin meningkat mencapai 120 ribu ton untuk tahun ini. Sedangkan untuk tahun depan ditargetkan bisa mencapai 150 ribu ton.

"Itu masih hitungan kasar, karena kita akan mapping dulu, pembenahan data," kata dia.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini