nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jalani Pengobatan di Jerman, Pembuatan R-80 Buatan Habibie Tetap Berjalan

Bramantyo, Jurnalis · Senin 11 Maret 2019 16:51 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 11 320 2028514 jalani-pengobatan-di-jerman-pembuatan-r-80-buatan-habibie-tetap-berjalan-ebhJfAprjM.jpg Foto: Ilham Habibie

SOLO - Meski sejak Oktober 2018, BJ Habibie menjalani pengobatan di Jerman. Namun seperti yang disampaikan putranya Ilham Habibie, sang ayah masih ikut mempersiapkan pembuatan pesawat Regio Prop 80 (R-80).

"Itu masih jalan terus," papar Ilham, di Solo, Jawa Tengah, Senin (11/3/2019).

Ditegaskan Ilham, di dunia ini tidak banyak negara yang bisa membuat atau memproduksi pesawat. Dari 200 negara yang ada di dunia hanya sekitar 10 persen atau 20 negara yang bisa memproduksi pesawat secara utuh.

"Indonesia salah satunya," ungkapnya.

Baca Juga: Mengintip Kecanggihan R80, Pesawat Buatan Habibie

Bahkan ada kabar gembira yang juga disampaikan untuk tahun ini rencananya ada investor dari Indonesia yang akan masuk menanamkan investasinya. Dengan begitu diharapkan progres ke depannya semakin maju.

"Mudah-mudahan adanya investor yang masuk Insya Allah pembuatan prototype bisa segera di mulai tahun ini," lanjutnya.

Terkait lokasi pembuatannya masih dalam proses perundingan. Bisa di Bandara Kertajati atau alternatif lainnya di Batam. Selama ini Kertajati sudah menjadi Bandara, dan di situ ada yang namanya aerocity. Dan ada kawasan Industri.

"Harapan kami adalah untuk perakitan final assembly bisa dilakukan di Kertajati di pinggir lapangan udara," paparnya.

Diharapkan pesawat tersebut bisa mengudara di tahun 2024 atau 2025. Saat ini sudah ada pemesanan sebanyak 150 unit dari 4 perusahaan yang ada di Indonesia.

"Hanya untuk Indonesia karena kita belum pasarkan di luar negeri. Karena pasar terbesar memang ada di Indonesia. Memang untuk sementara akan fokus di dalam negeri dulu," tegasnya.

Baca Juga: Pesawat R80 Ditargetkan Terbang 2022

Nanti ke depannya juga bisa merambah ke pasar di luar wilayah di Indonesia. Pasalnya banyak juga negara lain yang memiliki karakteristik seperti wilayah Indonesia.

Yakni memerlukan pesawat untuk jarak pendek dan bisa mendarat di landasan yang tidak terlalu panjang.

"Kondisi seperti itu ada di banyak negara seperti Filipina, Vietnam, Thailand, itu baru Asia Tenggara. Belum lainnya di Afrika, Amerika Latin bahkan di Austrli perlu pesawat seperti itu," jelas Ilham.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini