Arcandra juga menekankan bagi pengusaha migas untuk tidak selalu melihat penurunan pro duk si migas alamiah atau declining. Arcandra meminta KKKS optimistis mengerjakan eksplorasi . “ Kalau terjadi declining, itu hanya kaca spion, sekarang liat ke depan. Kalau nyetir pakai kaca spion, bisa tertabrak. Kaca spion itu hanya guidance“ tandasnya. Ia juga mengungkapkan langkah peningkatan produksi dijalankan untuk mengantisipasi ancaman defisit migas atas lonjakan kebutuhan migas yang kian tinggi di tahun mendatang.

Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM) Fahmy Radhi menilai target lifting tahun ini sulit untuk mencapai target. Pasalnya, produksi minyak masih ditopang oleh sumur-sumur tua belum menghasilkan temuan sumur-sumur baru. “Saya melihat lifting cenderung menurun tahun ini. Nah kalau kemudian ditetapkan lebih tinggi akan sulit tercapai cenderung tidak realistis. Karena, tahun depan lifting masih pada sumur-sumur tua dan blok terminasi sehingga produksi stagnan bahkan cenderung menurun,” ujar Fahmy, kepada KORAN SINDO, kemarin.
Fahmy beranggapan tidak adanya eksplorasi dan eksploitasi sumur-sumur baru target lifting yang ditetapkan pemerintah akan sulit tercapai. Selain itu, pihaknya juga melihat investasi hulu migas belum bergairah tahun ini karena harga minyak di - prediksi masih cenderung menurun akibat kelebihan pasokan minyak pasar dunia. “Investasi memang ada yang masuk, tapi tidak langsung menghasilkan. Kalaupun ada eksplorasi sumur baru, itu tidak langsung menghasilkan, masih menunggu sampai 10 tahun ke depan untuk produksi. Karena itu, tahun ini saya melihat lifting justru menurun,” tandasnya.
(Nanang Wijayanto)
(Kurniasih Miftakhul Jannah)