Tak Hanya di Jakarta, MRT Bakal Dibangun di Bandung hingga Medan

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 20 Maret 2019 10:30 WIB
https: img.okezone.com content 2019 03 20 320 2032488 tak-hanya-di-jakarta-mrt-bakal-dibangun-di-bandung-hingga-medan-OQcjoEmQ2d.jpg Proyek MRT Jakarta (Foto: Okezone)

JAKARTA – Setelah Jakarta, pemerintah mempertimbangkan Mass Rapid Transit (MRT) dibangun di sejumlah kota lain di Indonesia.

Kehadiran moda transportasi massal itu diharapkan membangun budaya baru masyarakat dalam menggunakan transportasi umum. Diantara kota-kota yang disiapkan mengembangkan MRT adalah Bandung, Palembang, Makassar, Surabaya, dan Medan. Sejauh ini lima kota tersebut masih melakukan studi kelayakan atau feasibility study (FS). “Ini kan FS dulu. Kalau untuk Jakarta, sangat mendesak, tapi kota-kota lain seperti Palembang, Sumut (Medan), Bandung, Surabaya, dan Makassar, saya kira juga harus disiapkan, jangan terlambat seperti kita yang di Jakarta,” ucap Presiden Joko Widodo (Jokowi) di selasela uji coba MRT di Jakarta kemarin.

Baca Juga: Soal Tarif Ojek Online, Menhub Tak Ingin Masyarakat Dirugikan

Rencana pengembangan transportasi massal berbasis rel di sejumlah kota tersebut cukup ambisius, namun tetap harus menyesuaikan dengan kebutuhan. Jangan sampai sarana prasarana yang dibangun dengan investasi mahal kurang optimal dalam pemanfaatannya. Selain itu, konsep integrasi juga harus benar-benar dijadikan patokan agar antar satu moda dengan moda transportasi lainnya bisa saling melengkapi dan tidak berkompetisi. Contohnya pemanfaatan moda LRT di Palembang yang sampai saat ini dilaporkan masih sepi penumpang. Pengamat transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, Djoko Setijowarno mengatakan, rencana pemerintah yang akan menambah transportasi MRT di sejumlah kota selain Jakarta dinilai tidak akan efisien.

Ujicoba MRT, Warga Manfaatkan untuk Keliling Ibukota 

Menurut dia, pemerintah sebaiknya memanfaatkan pembangunan transportasi yang paling cepat dikerjakan dan murah. “Misalnya membuat transportasi umum berbasis jalan raya. Contoh paling bisa dengan membuat sistem Bus Rapid Transit atau BRT. Ini mirip-mirip dengan Transjakarta,” ujar dia kepada KORAN SINDO. Dia menilai, pemerintah jangan melompat terlalu jauh dengan membangun transportasi berbasis MRT di luar Kota Jakarta. Djoko berkaca pada proyek LRT di Sumatera Selatan yang hitung-hitungannya jauh dari perkiraan.

“Ya, takutnya kalau dibangun dengan biaya mahal, nanti tidak laku di masyarakat. Jadi pertimbangannya banyak, termasuk ada jaminan subsidi dari pemerintah daerah setempat. Kalau LRT Sumsel, kan penumpangnya jauh dari perkiraan atau di bawah 50%,” ungkapnya. Pemerintah, tambah Djoko, harus realistis jika ingin membangun transportasi seperti MRT. Dari sisi biaya pembangunan sangat mahal atau setidaknya membutuhkan jaminan pemerintah. “Ini belum ditambah keruwetan yang lain. Dan ini bukan biaya yang kecil,” pungkas dia.

Uji Coba MRT Jakarta

Kemarin Presiden Jokowi mencoba MRT dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) hingga Stasiun Lebak Bulus. Pada kesempatan itu, Presiden didampingi sejumlah menteri Kabinet Kerja dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Saat menjajal MRT, Jokowi memuji kemampuan moda transportasi anyar tersebut. “Ini bukan mantap lagi, tapi mantul (mantap betul),” ujar Jokowi. Menurut Presiden, kualitas MRT sudah sangat baik. Dia pun menilai animo masyarakat sangat baik, terlihat dari banyaknya masyarakat yang mencoba moda transportasi yang bisa menampung 1.800 orang ini. “Antusias terhadap MRT sangat besar. Dan, kualitasnya sangat baik, begitu pula jumlah stasiun dan kapasitasnya, sekali angkut 1.800 orang,” ujarnya.

Seperti diketahui, MRT Jakarta yang memasuki masa uji coba sejak 12-23 Maret 2019 memiliki lintasan sepanjang 16 kilometer (km) dan melintasi 13 stasiun. Ke-13 stasiun itu terdiri atas tujuh stasiun melayang, yaitu Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja. Sisanya enam stasiun bawah tanah yakni Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, serta Bundaran HI. Adapun soal besaran tarif MRT, Pemprov DKI Jakarta masih melakukan finalisasi bersama DPRD. Namun, Gubernur Anies memberikan bocoran bahwa kisaran tarif MRT menggunakan perhitungan berbasis kilometer yakni sekitar Rp1.000 per km.

MRT Akan Beroperasi Pertengahan Maret Tahun Depan

“Jadi, bagaimana tarifnya, misalnya naik dari Stasiun Blok M ke Stasiun Setiabudi beda dengan harga dari Stasiun Blok M ke Stasiun Bundaran HI sehingga ada harga per jarak, bukan satu tarif,” ujarnya. Terkait transportasi di Jakarta dan kota-kota penyangga sekitarnya, Jokowi ingin agar integrasi transportasi terus diupayakan. Para kepala daerah di Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi) sudah sepakat mengintegrasikan transportasi. “Ini mesti segera dilakukan,” ujar Jokowi. Presiden menegaskan, pengintegrasian transportasi ini tak bisa ditunda lagi karena kemacetan di Jabodetabek sudah menimbulkan kerugian yang sangat besar selama berpuluh-puluh tahun. “Tidak ada lagi yang nama nya ego sektoral lagi, ego kementerian, ego daerah, saya kira semuanya yang ada adalah kepentingan nasional,” papar dia.

Jokowi juga berkeinginan agar transportasi di Jakarta bisa semakin terintegrasi dan modern. Untuk itu, dia menyatakan pembangunan MRT akan dilanjutkan ke fase kedua yang prosesnya dimulai pekan depan. MRT fase kedua memiliki rute Stasiun Bundaran HI, Jakarta Selatan sampai kawasan Kota Tua, Jakarta Utara. Selain pembangunan proyek MRT fase II, pemerintah juga menyiapkan pembangunan yang menghubungkan semua kawasan Jabodetabek. Selanjutnya beberapa wilayah di Indonesia. “Tadi sudah dihitung, untuk pembangunan transportasi terintegrasi di Jabodetabek itu butuh Rp571 triliun,” ujar Jokowi.

Untuk kebutuhan dananya, Jokowi mengatakan masih akan mendiskusikan dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani agar tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

(Ichsan Amin/Sindonews/Ant)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini