nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menpar: 2020, Ekonomi Indonesia Bergantung pada Pariwisata Bukan Migas

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 20 Maret 2019 13:47 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 03 20 320 2032573 menpar-2020-ekonomi-indonesia-bergantung-pada-pariwisata-bukan-migas-Du483sQyiK.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Pariwisata Arief Yahya menyebut sektor pariwisata akan menjadi faktor pendorong ekonomi Indonesia di masa mendatang. Bahkan dirinya berkeinginan jika nantinya, faktor pendorong ekonomi Indonesia tidak lagi berasal dari migas dan non migas melainkan dari pariwisata.

Bukan tanpa alasan, Arief mengatakan saat ini saja sektor pariwisata Indonesia pertumbuhannya tertinggi kedua di Asia Tenggara (ASEAN) setelah Vietnam.

Apalagi, sektor pariwisata memiliki potensi yang sangat besar sekali. Di mana Indonesia memiliki pantai-pantai yang sangat indah.

"Kalau dulu migas dan non migas. Mulai 2020 kita ganti jadi pariwisata dan non pariwisata," ujarnya dalam acara Kongres Teknologi Nasional (KTN) di Kantor BPPT, Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Baca Juga: Cepat Raup Devisa, Bos BI: Sektor Pariwisata Perbaiki Defisit Transaksi Berjalan

Untuk mencapai target tersebut, Menpar tengah menyiapkan beberapa strategi yang tidak biasa.

Langkah pertama adalah bagaimana memperbaiki regulasi. Pemerintah sendiri akan melakukan beberapa perubahan regulasi untuk mempermudah wisatawan khususnya mancanegara bisa masuk ke Indonesia.

Kedua adalah teknologi. Menurutnya, teknologi sangat penting untuk menarik wisatawan menuju Indonesia. Sebagai salah satu contohnya adalah adanya platform jual beli tiket dan hotel seperti Traveloka.

"Satu regulasi kedua adalah teknologi. Saya membuat ibarat ada bandulan . Perubahan signifikan pasti akan dilakukan kalau kita melakukan hal hal strategis," jelasnya.

Baca Juga: Penjelasan Lengkap Menpar soal Turunnya Target Devisa Pariwisata

Menpar percaya jika kedua hal tersebut dilaksanakan bisa menarik banyak sekali wisatawan khususnya yang berasal dari luar negeri. Salah satu contohnya saja pada tahun 2015 lalu wisatawan yang datang ke Indonesia sendiri baru mencapai 9 juta sedangkan pada 2018 wisatawan yang datang ke Indonesia sudah mencapai 15 juta.

"Kalau okupansi industri yang kita pimpin buruk pasti karena regulasi dan teknologi. Kalau kita bergerak ke bawah satu meter maka bandulan ini bergerak satu meter. Kalau kita bergerak satu meter maka ke bawah berasa 10 meter. Tapi kalau di pimpinan kalau kita bergerak satu meter maka di bawah akan berasa 100 meter. Maka ketika saya jadi menteri melakukan di regulasi dan kedua mengimplementasikan teknologi," jelasnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini