nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Satu Perusahaan di Sumsel Siap Melantai di Bursa

Senin 01 April 2019 12:40 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 01 278 2037696 satu-perusahaan-di-sumsel-siap-melantai-di-bursa-17U2WDHt5Q.jpg Ilustrasi IPO (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mendorong perusahaan-perusahaan di Sumatera Selatan untuk go public karena sejauh ini hanya tiga perusahaan yang sudah menjual lembar sahamnya ke masyarakat. "Sejauh ini baru ada tiga. BEI terus mendorong dan mudah-mudahan ada tambahan satu perusahaan di tahun ini, yakni dari perusahaan energi," kata Kepala Perwakilan BEI Palembang Hari Mulyono dilansir dari Harian Neraca, Senin (1/4/2019).

Disebutkannya, tiga perusahaan itu yakni dua perusahaan BUMN, PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) dan PT Semen Baturaja (Persero) Tbk (SMBR) dan satu perusahaan swasta, yakni PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO). Meski enggan menyebutkan nama perusahaan tersebut, Hadi memastikan bahwa perusahaan energi asal Sumsel itu akan siap melantai di bursa paling lambat pada Agustus 2019.

Baca Juga: BEI Targetkan Satu Perusahaan di Medan IPO

Diriya mengungkapkan, perusahaan tersebut seharusnya sudah go public pada kuartal I tahun ini, namun karena persiapan internal yang cukup alot membuat beralih ke kuartal III/2019. Hari mengatakan, perusahaan itu berniat go public seiring kebutuhan terhadap dana segar dalam jumlah besar untuk menyokong ekspansi bisnis perusahaan di bidang energi terbarukan. Selain itu, perusahaan ini juga berambisi menjadi pemimpin di sektor bisnis tersebut.

Terkait masih sedikitnya perusahaan asal Sumsel yang IPO, Hari menjawab sebenarnya upaya yang dilakukan BEI Palembang cukup masif, seperti menggelar lokakarya go public yang ditujukan kepada perusahaan-perusahaan lokal di daerah itu dengan menggandeng HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia).

ihsg

Namun, adanya kekhawatiran mengenai kontrol perusahaan setelah terjadinya perpindahan saham ke masyarakat atau investor umum membuat rencana IPO kurang diminati pengusaha. Padahal, perusahaan yang sudah terbuka dipastikan akan lebih solid karena pengawasan tak lagi di tangan pemilik modal melainkan juga investor publik.

Bukan itu saja, keenganan muncul karena adanya proses persiapan internal yang membutuhkan waktu relatif lama.”Bukan proses di BEI yang lama tetapi di internal perusahaan, apalagi mereka harus merapikan laporan keuangan dan harus clean and clear, perpajakannya jelas, modalnya jelas, harus menyelesaikan silang kepemilikan terkait modal, dan lain-lain," katanya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini