Peternak Ayam Ramal Stok dan Harga di Bulan Ramadan Stabil

Putra Ramadhani Astyawan, Jurnalis · Sabtu 06 April 2019 14:25 WIB
https: img.okezone.com content 2019 04 06 320 2039889 peternak-ayam-ramal-stok-dan-harga-di-bulan-ramadan-stabil-ooruJldzTZ.jpg Harga Daging Ayam (Foto: Okezone)

BOGOR - Gabungan Asosiasi Pengusaha Peternak Ayam Nasional (GOPAN) memprediksi ketersediaan ayam potong menjelang bulan Ramadan. Selain itu, harga pokok penjualan (HPP) diprediksi normal.

Sekjen GOPAN, Sugeng Wahyudi, mengatakan stok ayam untuk bulan bulan Ramadan dipastikan berlebih. Saat ini stok ayam di cold storage atau rumah potong rata-rata mencapai 63 juta per bulan. Sedangkan kebutuhan konsumsi daging untuk sekali nasional hanya sekitar 58-60 juta per bulan.

"Jadi menurut kami stok daging ayam untuk bulan Ramadan tidak kurang malah berlebih. Tapi karena stok ayam berlebih justru berimbas pada harga jual ayam yang menurun untuk saat ini," kata Sugeng, kepada wartawan, di Kota Bogor, Sabtu (6/4/2019).

Pada kesempatan itu, ia juga meminta pemerintah agar memperhatikan peternak, baik itu peternak rakyat maupun mandiri. Sebab, dengan adanya Permendag Nomor 96/2018 dinilai belum efektif. Sehingga banyak peternak ayam yang kerap mengalami kerugian hingga miliaran rupiah.

Baca Juga: Harga Pangan Hari Ini, Cabai Merah hingga Bawang Putih Turun

Untuk itu pihaknya siap bersinergi dengan pemerintah untuk menstabilkan harga ayam potong. "Kami juga apresiasi Dirjen Peternakan yang terus berupaya melakukan stabilitas harga ayam," tambahnya.

Menurut Sugeng yang juga merupakan juru bicara dari Peternak Rakyat dan Peternak Mandiri (PRPM) ini, kerugian ini sudah dialami oleh peternak sejak Januari sampai Maret 2019. Peternak mengalami kerugian sekitar Rp4.000-Rp5.000 per kilogram.

"Saat ini harga produksi atau modal ayam potong antara Rp18.300 per kg sampai Rp19.300 per kg sedangkan saat dijual hanya berkisar Rp14 ribu per kg. Jadi para peternak mengalami kerugian dari Rp4.000- Rp5.000 per kg. Ini jadi problem besar untuk para peternak. Jika hal ini terus menerus, maka para peternak rakyat banyak yang bangkrut," paparnya.

Sugeng menjelaskan, jika dikalkulasikan, kerugian para peternak bisa mencapai miliaran rupiah. Dari 63 juta ayam potong, sekitar 20 persen dikuasai oleh peternak rakyat. Angka tersebut dikalikan oleh berat daging ayam yang rata-rata antara 1,5-2 kilogram dengan kerugian yang mencapai Rp5.000.

"Misalnya 13 juta dikalikan 2 kg dikalikan Rp5.000 hasilnya Rp1,3 miliar. Jadi peternak rakyat alami kerugian sebesar Rp1,3 miliar per bulan. Kalau hal ini dibiarkan, mereka bisa bangkrut,” ucapnya.

ayam

Meski harga jual ayam di produsen mengalami penurunan, namun harga ayam di pasaran malah mahal. Menurut Sugeng, harga ayam di pasar mencapai Rp32 ribu. Hal ini lantaran surat edaran Permendag Nomor 96/2018 tidak berjalan.

"Dalam Permendag ditetapkan sebesar Rp20 ribu per kilogram untuk batas bawah dan Rp22 ribu per kilogram untuk tarif batas atas. Namun kondisi saat ini, harga pembelian yang diterima peternak hanya Rp14 ribu per kilogram Sedangkan penjualan di konsumen mencapai Rp36 ribu per kilogram. Selisih harganya sangat jauhkan. Kami mau surat edaran dari Kemendag itu ditegakkan," tuturnya.

Sementara, ketika ditanya terkait dinamika politik jelang Pemilu 2019, Sugeng menyebutkan bahwa kontestasi politik, yakni Pilpres maupun Pileg tidak berpengaruh signifikan terhadap pengusaha ternak.

"Karena kami para pengusaha tidak berpolitik. Persoalan siapa yang jadi presiden nanti, kami tetap mendukung hasil pemilu," tutupnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini