Advertisement
Advertisement

Harga Minyak Naik 2% Imbas Perang Libya

Harga Minyak Naik 2% Imbas Perang Libya
Ilustrasi: Foto Shutterstock
A
A
A

NEW YORK - Harga minyak melonjak hingga 2% pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), mencapai tingkat tertinggi dalam lima bulan di tengah ekspektasi bahwa pasokan global akan semakin ketat.

Ketatnya pasokan global tersebut antara lain akibat pertempuran di Libya, pemangkasan produksi yang dipimpin OPEC, dan sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela.

Patokan internasional, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni naik USD0,76 atau 1,10% menjadi ditutup pada USD71,10 per barel di London ICE Futures Exchange. Minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik USD1,32 atau 2,1% menjadi menetap pada USD64,40 per barel di New York Mercantile Exchange. Demikian dikutip Antaranews, Jakarta, Selasa (9/4/2019).

 Baca Juga: Pasokan Terbatas, Harga Minyak ke Level USD70 per Barel

Tingkat tertinggi sesi Brent mencapai USD71,19 per barel dan WTI mencapai USD64,44, keduanya merupakan yang tertinggi sejak November.

"Bullish (kegairahan) ini terus berjalan dengan tertinggi baru dalam lima bulan pada hari ini, semakin menguatkan komunitas spekulatif yang baru-baru ini tertarik kembali ke sisi jangka panjang WTI dengan yakin," kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates, dalam sebuah catatan.

Para pedagang mengatakan harga memperpanjang kenaikan setelah data dari perusahaan intelijen pasar Genscape menunjukkan stok minyak mentah di Cushing, Oklahoma, titik pengiriman untuk WTI, turun sekitar 419.000 barel pekan lalu.

Investor sudah fokus pada pasokan selama sesi karena pertempuran di Libya yang kaya minyak mengancam akan mengganggu ekspor. Pasukan Timur maju di ibu kota negara itu, mengabaikan permintaan global untuk gencatan senjata.

Komandan militer Libya yang berbasis di timur, Khalifa Haftar, melancarkan operasi militer pekan lalu untuk mengambil alih ibu kota Tripoli, tempat pemerintah yang didukung PBB berpangkalan.

Libya secara politis terbagi antara pemerintah yang didukung PBB dan pemerintahan paralel yang bersekutu dengan Khalifa Haftar.

"Kekerasan di Libya memikat pasar," kata John Kilduff, seorang mitra di Again Capital LLC di New York. "Mengingat upaya intens dari Arab Saudi dan negara-negara lain untuk membatasi produksi, ada perasaan bahwa kehilangan minyak Libya, sekali lagi, memiliki potensi krisis pasokan."

 Baca Juga: Harga Minyak Mentah Naik hingga 1,5%

Untuk menopang harga, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya seperti Rusia berjanji untuk menahan sekitar 1,2 juta barel per hari (bph) pasokan mulai awal tahun ini. Kelompok itu, yang dipimpin oleh Arab Saudi, telah melampaui ekspektasi sepanjang tahun ini.

"Pemotongan pasokan OPEC yang sedang berlangsung dan sanksi-sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela telah menjadi pendorong utama harga sepanjang tahun ini," kata Hussein Sayed, kepala strategi pasar di broker berjangka FXTM.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement