Fortnite awalnya bukan gim battle royal dengan 100 pemain. Tapi, mereka cepat sekali beradaptasi melihat tren. Bahkan, mulanya gim tersebut nyaris gagal. Beberapa bulan setelah aktif, Epic menjatuhkan harga gim ke nol, memasukkan transaksi mikro, dan menyebutnya Fortnite Battle Royale. Sweeney dan CTO Kim Libreri memandang masa depan dengan optimistis.
Mereka telah memastikan bahwa perusahaan tetap cukup gesit untuk merespons tren yang berubah. Epic adalah salah satu perusahaan besar pertama yang menggunakan layanan "games as a service"; pada 2012, raksasa teknologi Cina Tencent mengakuisisi 40 persen dari bisnisnya dengan USD 330 juta, dan sebagai imbalannya, Epic menerima dukungan dan wawasan tentang ekosistem yang berfokus layanan berlangganan dan terus-menerus terhubung yang mentenagai industri video gim.
"Ada masalah yang kami pecahkan, dan kemudian ada masalah yang dipecahkan oleh perusahaan platform lain dimana kami hanya bekerja dengan mereka," kata Sweeney. Soal layanan gim streaming yang dilakukan oleh Google lewat Stadia, Sweeney menyebut bahwa pihaknya tidak akan jadi pesaing.
Namun, ikut mendukung dengan permainan mereka. ”Streaming adalah sesuatu yang akan membutuhkan investasi miliaran dolar. Membangun peternakan server, mengutilisasi jaringan 5G dan yang lainnya,” katanya.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.