nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jelang Pemilu, IHSG Diprediksi Melemah

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 15 April 2019 10:23 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 04 15 278 2043588 jelang-pemilu-ihsg-diprediksi-melemah-mIxB1zMNOl.jpg Indeks Harga Saham Gabungan (Ilustrasi: Okezone)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diyakini akan mengalami tren penurunan pada pekan ini. Momen pemilihan umum (pemilu) ditambah hari libur Wafat Isa Al-Masih pada Jumat (19/4) diperkirakan semakin memberatkan investor untuk bertransaksi.

Meski begitu, investor diharapkan dapat melakukan pembelian saham yang tepat. Pada akhir pekan lalu, indeks ditutup di zona merah, yakni turun tipis 4,30 poin atau 0,07% ke level 6.405,87. Dalam sepekan kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan turun 1,05% ke level 6.405,87 dari 6.474,02 pada penutupan pekan sebelumnya. Investor asing mencetak net sell Rp467,42 miliar di pasar reguler dan total net sell Rp970,02 miliar di seluruh pasar. Associate Director Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, IHSG berpotensi melemah dengan rentang 6.393-6.420. Pekan ini menurutnya adalah pekan penentuan.

Baca Juga: IHSG Naik 21 Poin di Awal Pekan

Debat pamungkas kemarin memberikan keyakinan kepada masyarakat akan pandangan mengenai visi dan tujuan ekonomi kedua belah pihak. “Dua hari libur akan membuat IHSG berpotensi melemah dan harga cenderung turun,” ujar Nico di Jakarta, kemarin. Dia juga mengatakan, pekan ini merupakan pekan yang tepat membeli karena harganya akan relatif cenderung turun dan hari transaksi sedikit karena banyaknya libur. Fokus berikutnya adalah memilih saham-saham pilihan yang tepat untuk bisa mengambil keuntungan ketika pemilu usai. Kepala Riset Narada Kapital Indonesia Kiswoyo Adi Joe menilai IHSG sepekan ini akan bergerak di kisaran 6.350-6.500. Menurutnya, dampak libur saat hari pemilu dan Paskah membuat indeks akan bergerak sideway atau cenderung naik tipis.

“Harusnya tidak ada dampak signifikan dari pemilu. Diperkirakan indeks bergerak naik tapi kecil,” ujarnya. Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan mengatakan, sepanjang satu kuartal ini, sesuai prediksinya pertumbuhan ekonomi global yang melambat, terutama di negara-negara maju. Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) dan Bank Sentral Eropa sama-sama secara simultan menghentikan pengetatan moneternya dan juga menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini untuk kawasan masing-masing. Misalnya The Fed menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi dari 2,3% menjadi 2,1%, walaupun secara umum The Fed masih melihat ekonomi Amerika Serikat (AS) masih kuat.

IHSG Ditutup Menguat 76,4 Poin Hari Ini 

Sedangkan Bank Sentral Eropa menurunkan prediksi pertumbuhan ekonominya dari 1,7% menjadi 1,1%. Dalam perlambatan pertumbuhan ekonomi, dia juga melihat ada yield inversion atau inversi imbal hasil. Misalnya di AS, obligasi tenor pendek, seperti tiga bulan, dua tahun, tiga tahun, yieldnya naik tinggi. Bahkan satu saat lebih tinggi dari tenor 10 tahun. Seharusnya dalam kondisi normal, yield tenor panjang lebih tinggi dari yield tenor pendek sehingga terjadi inverse , hal ini sempat membuat pelaku pasar bingung. Mereka mengindikasikan suatu sinyal sehingga resesi akan terjadi.

“Kami melihat kondisi yield inversion sebagai keyakinan pasar finansial terhadap ekonomi jangka pendek itu rendah. Tapi, terlalu dini menyatakan resesi pasti terjadi,” kata Katarina, beberapa waktu lalu. Yield inversion ini bukan terjadi pertama kali di AS. Sudah terjadi beberapa kali, pada tahun 1978, 1989, 1998, dan 2006. Jika mencermati apa yang terjadi di masa-masa itu, sejak inversi imbal hasil terjadi, indeks S&P 500 masih naik. Bahkan secara rata-rata ada kenaikan 19% pada periode 12 bulan daripada waktu inversi itu terjadi. Dari domestik dia berkaca dari tiga pemilu sebelumnya pada 2004, 2009, dan 2014, yang menunjukkan indikator ekonomi dan kinerja pasar.

Menurutnya, pada tahun pemilu nilai rupiah tertekan pada 2004 dan 2014, sedangkan tahun 2009 rupiah menguat. Kalau cermati lebih dalam, tahun 2004 dan 2005 harga minyak naik tinggi sehingga memicu inflasi tinggi sampai 17% waktu itu. Apa yang terjadi tahun 2014, pada waktu itu The Fed menghentikan quantitative easing . Jadi dua faktor itu sangat menekan nilai tukar rupiah. “Tapi, sangat berbeda dengan saat ini. Kalau 2004 dan 2005 inflasi tinggi, sekarang inflasi sangat rendah, di bawah 3% dan 2014 The Fed mengetatkan moneter, sekarang justru sangat akomodatif, malah menghentikan pengetatan moneter.

Kondisinya sangat berbeda,” ujarnya. Dia juga tidak melihat korelasi jelas antara arus dana investor asing dengan pemilu, baik pada 2004, 2009, maupun 2014. Kalau dilihat di tiga pemilu sebelumnya, cenderung pasar saham malah naik pada tahun itu. Jika pemilu aman, pasar saham malah meningkat. Jadi sebetulnya dari pengalaman lalu, pemilu itu bukan suatu faktor yang ditakuti sehingga jangan takut untuk terus berinvestasi. Apalagi kita melihat dengan berhentinya pengetatan moneter oleh The Fed, terbuka ruang bagi Bank Indonesia menurunkan suku bunga. “Jadi sebaiknya jangan takut, jangan khawatir, teruslah berinvestasi sesuai tujuan investasi dan profil risiko masing-masing,” tuturnya.

(Hafid Fuad)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini