nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kualitas Hidup Orang RI Meningkat, Angka Pernikahan Dini pun Merangkak Naik

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Senin 15 April 2019 20:26 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 15 320 2043900 kualitas-hidup-orang-ri-meningkat-angka-pernikahan-dini-pun-merangkak-naik-VZ2jNpfiQI.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan pada tahun 2018 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengalami kemajuan yakni menjadi 71,39. Angka tersebut meningkat 0,58 poin atau setara dengan 0,82% dibandingkan 2017.

Adapun pembangunan manusia diukur dengan memperhatikan tiga aspek ensensial yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup yang layak.

Kepala BPS Suhariyanto menyatakan, meski mengalami peningkatan namun masih tingginya disparitas atau kesenjangan IPM antar kabupaten/kota. Seperti Yogyakarta yang mengalami IPM tertinggi yakni 66,1, sementara di Kabupaten Nduga, Papua hanya 29,4.

"Jadi bisa dibayangkan keadaan pendidikan dan kesehatan di sana (Kabupaten Nduga), dan kembali lagi kuncinya kepada infrastruktur," ujar Suhariyanto di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (15/4/2019).

 Baca Juga: Pernikahan Usia Muda Lebih Banyak Mudarat ketimbang Manfaatnya, Ini Faktanya

Oleh sebab itu, menurutnya, strategi pemerintah yang telah bergeser dari fokus pembangunan infrastruktur menjadi peningkatan kualitas hidup manusia, sudah tepat dilakukan. Kata dia, peningkatan kualitas hidup bisa dilakukan dari sisi kesehatan.

Dirinya pun menyoroti permasalahan pernikahan dini yang bisa berpengaruh pada kualitas kesehatan hingga pendidikan. Sayangnya, pernikahan dini di Indonesia mengalami peningkatan.

"Persoalan perkawinan dini menjadi agak perlu diperhatikan karena ada indikasi agak meningkat," ujar dia.

Dari sisi pendidikan, angka partisipasi sekolah memang meningkat di semua level, namun ada indikasi siswa yang melanjutkan pendidikan dari tingkat SD ke SMP mengalami pengurangan. Di mana partisipasi SD dari usia 7-12 tahun mencapai 99,2%, artinya hampir semua anak di Indonesia pasti menikmati SD.

"Tapi ketika masuk SMP itu agak turun jadi 95%, artinya ada yang tidak meneruskan," katanya.

 Baca Juga: Angka Pernikahan Dini di Jakarta Timur Masih Tinggi, Mayoritas karena Hamil Duluan?

Kemudian di tingkat SMA dan Perguruan Tinggi juga mengalami penurunan. Kata Suhariyanto, banyak anak usia 19-24 tahun tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi.

"Banyak yang tidak kuliah karena berbagai alasan, seperti ketidakmampuan biaya hingga infrastruktur. Jadi harus dilihat agar anak-anak bisa pergi sekolah dan tingkat partisipasinya meningkat di semua level," katanya.

Disisi lain, peningkatan daya beli juga perlu dilakukan. Sebab, jika pendapatan meningkat namun inflasi tak terjaga, juga akan menurunkan kualitas hidup masyarakat.

"Daya beli juga harus disentuh. Karena kalau pendapatan naik tapi inflasi tinggi maka sama saja bohong," tutupnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini