nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Capai Rp317 Triliun, Bank Mandiri Mau Restrukturisasi Utang Krakatau Steel

Selasa 16 April 2019 11:41 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 16 278 2044096 capai-rp317-triliun-bank-mandiri-mau-restrukturisasi-utang-krakatau-steel-Z9PB47REY5.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

JAKARTA – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) siap melakukan restrukturisasi atas utang PT Krakatau Steel Tbk (KRAS). Hal ini dilakukan perseroan sebagai bentuk upaya penyelematan Krakatau Steel yang terus menderita rugi.

Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo alias Tiko mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyetujui proposal perbaikan yang diajukan oleh Krakatau Steel sebagai kreditur terbesar atau mencapai Rp317 triliun,

“Intinya kami mendukung restrukturasi. Krakatau Steel ini kan industri strategis nasional. Kita melihat bahwa prospek industri strategis nasional dengan pertumbuhan demand dari sektor infrastruktur dan konstriksi harusnya masih bagus. Jadi kita mendukung,” ungkapnya, dikutip dari Harian Neraca, di Jakarta, Selasa (16/4/2019).

Dirinya menambahkan, skema yang akan dilakukan KRAS dalam merestrukturasi utangnya antara lain dengan pengambilan aset dan penerbitan obligasi wajib konversi bertenor panjang. Bukan hanya Mandiri, PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) juga dikabarkan akan menjadi penyelamat bagi KRAS.

Baca Juga: Krakatau Steel Rugi 7 Tahun Berturut-turut, BEI Bakal Panggil Direksi

Nantinya, KRAS diharapkan dapat masuk ke dalam holding BUMN pertambangan, di mana Inalum menjadi induk holding tersebut sekaligus sebagai calon pemegang saham KRAS.

“Peranan Inalum nanti sebagai calon holding dari KRAS membantu juga supaya KRAS lebih kompetitif dan efisien dalam beroperasi ke depan,” kata Tiko.

Sebelumnya, Menteri BUMN Rini Soemarno turun tangan terkait kondisi utang KRAS yang cukup pelik. Menurutnya, tidak ada jalan lain selain melakukan restrukturisasi dengan melibatkan bank milik negara (Himbara). Saat ini, kata dia proses restrukturisasi telah berjalan, sebab pada 22 Maret lalu, Bank-bank Himbara menyetujui proposal restrukturisasi utang KRAS.

Seperti diketahui, KRASmasih mencatatkan rapor merah dari sisi kinerja keuangan. Selama 7 tahun beruntun, KRAS mencatatkan kerugian. Dalam laporan keuangan 2018, rugi bersih KRAS tercatat senilai USD74,82 juta atau Rp1,05 triliun (kurs Rp 14.000/USD) menurun dibandingkan 2017 senilai USD81,74 juta. Selain itu, KRAS mencatatkan kenaikan pendapatan 20% menjadi US$ 1,73 miliar, dibandingkan 2017 sebesar USD1,44 miliar.

Baca Juga: Krakatau Steel Bukukan Rugi USD74,82 Juta

Namun, yang menjadi tantangan terbesar dari emiten ini adalah utang sepanjang 2018 yang tercatat USD2,49 miliar. Jumlah ini mengalami kenaikan 10,45% dibandingkan 2017 sebesar USD2,26 miliar.

Utang jangka pendek yang dimiliki KRAS lebih besar dibandingkan utang jangka panjang. Utang jangka pendek KRAS senilai US$ 1,59 miliar, naik 17,38% dibandingkan 2017 senilai USD1,36 miliar. Sementara utang jangka panjang pabrik baja pelat merah ini sebesar USD899,43 juta. Adapun, beban pokok pendapatan membengkak menjadi USD1,58 miliar pada 2018, dari USD1,23 miliar pada 2017.

Sepanjang 2018, KRAS mencatatkan total aset US$ 4,29 miliar, dengan total aset tidak lancar USD3,31 miliar dan total aset lancar USD989,720 juta. Selain itu, nilai kas dan setara kas turun menjadi senilai USD173,28 juta dari tahun sebelumnya USD280,87 juta.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini