nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bahan Bakar Nuklir Dipindah dari PLTN

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 16 April 2019 12:29 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 16 320 2044125 bahan-bakar-nuklir-dipindah-dari-pltn-R4mcSZsbew.jpg Foto: Koran Sindo

TOKYO - Batang bahan bakar nuklir mulai dipindahkan dari gedung kedua di fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima oleh Tokyo Electric Power (Tepco).

Pemindahan dilakukan menggunakan derek yang dikontrol dari jarak jauh untuk mengangkat ratusan silinder radioaktif dari lokasi reaktor sangat terkontaminasi. Tepco menyatakan pihaknya sukses memindahkan lebih dari 560 batang bahan bakar nuklir dari reaktor nomor 3 dan menyimpannya di tong baja yang di desain khusus untuk pemindahan ke lokasi lain. Reaktor itu merupakan satu dari tiga reaktor di Fukushima yang meleleh setelah gempa bumi dan tsunami mematikan sistem pendingin PLTN pada 2011. Pada 2014, Tepco menyelesaikan pemindahan batang bahan bakar dari reaktor nomor 4. Meski demikian, operasi pemindahan untuk reaktor nomor 3 jauh lebih sulit karena kerusakan yang dialami saat bencana 2011.

Ketika itu, ledakan menutupi kolam tempat batang-batang itu berada dalam puing, termasuk satu mesin derek. Pemindahan puing dan kerusakan yang terjadi di sana menunda operasi di reaktor nomor 3 selama empat tahun. Selain itu, udara yang terkontaminasi radiasi tinggi di sekitar lokasi membuat semua derek memindahkan tong-tong pembawa batang-batang dengan bobot sekitar 45 ton itu harus dilakukan dari jarak jauh. Tepco harus mengangkat rangkaian batang bahan bakar nuklir yang rusak dari kompartemen banjir di lokasi reaktor yang tingginya 18 meter dari permukaan tanah. Batang-batang itu kemudian harus di letakkan di truk yang akan mengangkutnya ke kolam air terakhir untuk penyimpanan.

Baca Juga: Berisiko dan Biaya Tinggi, Rencana PLTN Perlu Dikaji Ulang

Jika batang-batang itu terpapar udara atau jika pecah, gas radioaktif bisa lepas ke atmosfer. “Pekerjaan di perkirakan selesai pada Maret 2021, tapi keamanan menjadi prioritas pertama kami,” kata juru bicara Tepco Joji Hara pada kantor berita Reuters . Bencana 2011 memaksa 160.000 orang mengungsi dari lokasi sekitar PLTN Fukushima. Banyak dari mereka tidak kembali ke tempat tinggalnya di wilayah yang sangat terkontaminasi radiasi. Pemerintah Jepang memperkirakan pada 2016 bahwa biaya total untuk membongkar Fukushima, dekontaminasi wilayah terdampak, dan membayar kompensasi mencapai USD192 miliar, sekitar 20% dari anggaran tahunan Jepang.

Meskipun berhasil memindahkan batang-batang bahan bakar nuklir itu, Tepco masih menghadapi masalah lain di Fukushima. Tepco telah kewalahan selama lebih dari delapan tahun dengan meningkatnya ketinggian air terkontaminasi berasal dari sistem pendingin yang rusak dari inti reaktor meleleh, menambah masalah kebocoran air, dan kerusakan jaringan listrik. Tahun lalu, Tepco menyatakan sistem untuk membersihkan air terkontaminasi gagal memindahkan kontaminan radioaktif berbahaya hingga memundurkan upaya menangani air di tangki-tangki yang menumpuk di sekitar PLTN itu. Saat ini ada sekitar 1 juta ton air terkontaminasi radiasi harus disimpan.

Baca Juga: Masyarakat Jadi Penentu, PLTN Bisa Dibangun di Indonesia

Air sebanyak itu harus disimpan selama bertahun-tahun di PLTN Fukushima. Tahun lalu, Tepco menyatakan sistem untuk membersihkan air terkontaminasi itu gagal membuang kontaminan radio aktif berbahaya. Itu artinya, air yang disimpan dalam 1.000 tangki di sekitar PLTN tersebut perlu diproses ulang sebelum dibuang ke laut. Skenario itu tampaknya paling mungkin di lakukan untuk membersihkan PLTN tersebut. Pemrosesan ulang air itu membutuhkan waktu hampir dua tahun dan membutuhkan banyak personil serta energi. Adapun proyek untuk melucuti sejumlah reaktor yang rusak akibat tsunami itu membutuhkan waktu hingga 40 tahun. Belum jelas bagaimana semua proses itu bisa tertunda.

Namun, setiap penundaan akan membutuhkan biaya mahal. Tepco telah kehabisan tempat untuk menyimpan air yang dibersihkan. Jika ada gempa bumi besar lagi, para pakar memperkirakan tangki-tangki penampungan itu bisa retak sehingga cairan dan limbah radioaktif bisa mengalir ke laut. Para nelayan juga kesulitan mendapat kepercayaan dari para konsumen terhadap keamanan ikan yang mereka tangkap.

Karena itu, para nelayan menentang pembuangan air hasil pemrosesan ulang tersebut meski Otoritas Regulasi Nuklir Jepang (NRA) menganggap air itu aman. “Itu akan merusak apa yang telah kita bangun selama delapan tahun terakhir,” tutur Tetsu Nozaki, Kepala Federasi Asosiasi Kerja Sama Nelayan Wilayah Fukushima.

(Syarifudin)

(kmj.-)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini