nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Berisiko dan Biaya Tinggi, Rencana PLTN Perlu Dikaji Ulang

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 19 Oktober 2018 10:37 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 10 19 320 1966088 berisiko-dan-biaya-tinggi-rencana-pltn-perlu-dikaji-ulang-yBpM3Vc9Hv.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA – Wacana pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di dalam negeri dinilai perlu dikaji ulang. Selain butuh biaya tinggi, posisi Indonesia yang berada di cincin api Pasifik (Pacific ring of fire) juga menimbulkan risiko tersendiri.

Baca Juga: Indonesia Kaji Bangun PLTN, Ini Sederet Faktor yang Harus Diperhitungkan

Dari sisi ekonomi, pengamat dan praktisi energi Herman Darnel Ibrahim mengatakan, biaya investasi untuk membangun PLTN sangat mahal. Tingginya biaya pembangunan PLTN tersebut menurutnya bisa membebani ekonomi Indonesia. “Menurut penelitian saya, membangun PLTN itu mahal dan biaya operasinya juga mahal. Karena itu, wacana membangun PLTN itu harus dipikirkan ulang,” ujarnya dalam diskusi ”Pro-Kontra Penggunaan Energi Nuklir di Indonesia” di Jakarta.

Tolak Pembangunan PLTN 

Herman mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan listrik, Indonesia masih bisa mengandalkan batu bara dan gas alam yang lebih ekonomis dibandingkan energi nuklir. Sumber daya batu bara maupun gas yang dimiliki Indonesia pun terbilang tinggi. “Indonesia memiliki sumber daya alam banyak sekali, seperti batu bara dan gas alam, yang harganya lebih murah dibandingkan harus menggunakan nuklir,” katanya. Herman pun menyinggung risiko bencana alam yang dapat menimbulkan kerusakan pada PLTN. Gempa dan tsunami di Palu dan Donggala baru-baru ini menurutnya harus menjadi pertimbangan sebelum merealisasikan pembangunan PLTN.

Baca Juga: Masyarakat Jadi Penentu, PLTN Bisa Dibangun di Indonesia

“Indonesia terletak di ring of fire, yang mana banyak bencana alam terjadi, itu cukup membahayakan PLTN. Bila terjadi kebocoran radiasi nuklir, itu bisa sangat berdampak pada masyarakat umum,” katanya. Di luar itu, Herman menyinggung kemungkinan penolakan dari negara-negara tetangga terdekat, seperti Singapura, Malaysia, dan Australia. ”Intinya, banyak hal yang harus dipertimbangkan dan paling utama adalah keselamatan masyarakat. Itu kenapa PLTN adalah pilihan terakhir,” ujarnya.

(M Faizal)

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini