nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perempuan dan Investasi di Pasar Modal Indonesia

Sabtu 20 April 2019 11:26 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 18 278 2045047 perempuan-dan-investasi-di-pasar-modal-indonesia-jRsVClU76G.jpg Indeks Harga Saham Gabungan (Ilustrasi: Okezone)

JAKARTA – Bahagianya perempuan di masa kini, yang memiliki kebebasan dalam beraktivitas. Bulan April ini perempuan Indonesia memperingati Hari Kartini. Ibu Kartini adalah sosok perempuan Jawa yang menjadi simbol emansipasi perempuan di negeri ini. Zaman dulu, perempuan Indonesia tidak bisa berkiprah layaknya kaum pria. Perempuan tidak bisa bersekolah tinggi, dan hanya dipersiapkan untuk mengurus rumah tangga dan keluarga di rumah. Di usia belia, perempuan masa lalu sudah dinikahkan, yang menjadi akhir dari cita-cita kebanyakan perempuan.

Dari balik kamar pingitan, RA Kartini “memberontak” lewat tulisan-tulisannya tentang peran perempuan di Tanah Air. Menyuarakan tekad perempuan yang ingin punya kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki untuk membangun bangsa. Surat-surat Kartini yang dikirimkan kepada sahabatnya di negeri Belanda dan beberapa di antaranya dipublikasi di Soerat Kabar masa itu, dibukukan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Ibu Kartini punya peran besar bagi eksistensi perempuan Indonesia saat ini.

Bagaimana dengan di pasar modal Indonesia? Di pasar modal, jumlah investor perempuan juga bertambah seiring waktu. Urusan berinvestasi tidak melulu menjadi urusan dan aktivitas laki-laki. Dan kalau ditilik dari sejarah, perempuan memang lebih tekun berinvestasi. Zaman nenek-nenek dan ibu-ibu kita masa lalu, mereka rajin membeli emas perhiasan sebagai investasi. Atau membeli aset tanah dan properti dari uang yang mereka sisihkan dari suami mereka. Perempuan lah yang menjadi pengelola keuangan rumah tangga sejati.

Baca Juga: OJK Ajak Generasi Milenial Investasi Saham

Di zaman modern, pilihan investasi semakin beragam. Perempuan punya pilihan berinvestasi portofolio di pasar modal, selain investasi yang tradisional seperti emas dan properti. Di Indonesia, investasi produk pasar modal dilakukan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI). Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan, lima tahun terakhir, pertumbuhan jumlah investor perempuan nyaris mencapai 1.000%.

Saat ini, total investor perempuan di pasar modal pertumbuhannya sangat signifikan. Jika sebelumnya persentase investor laki-laki dan perempuan di pasar modal adalah 70% berbanding 30%, berdasarkan data KSEI per akhir Maret 2019 jumlah investor perempuan telah mencapai 40% dari total investor pasar modal. Bahkan yang lebih menarik, jumlah investor yang merupakan ibu rumah tangga mencapai sekitar 4% dari total investor di pasar modal. Ini lantaran, keingintahuan perempuan terhadap investasi cukup tinggi.

Sebuah artikel keuangan di CNBC Indonesia memaparkan, sesungguhnya wanita lebih pintar berinvestasi daripada pria. Ada beberapa perbedaan antara karakter investor wanita dan pria yang terlihat menonjol. Pertama, investor perempuan melakukan aktivitas investasi (jual beli instrumen investasi) lebih sedikit daripada investor laki-laki. Ini mencerminkan, investor perempuan lebih sabar dibanding laki-laki, dan cenderung lebih menghindari risiko dari aktivitas investasi yang berlebihan.

ihsg

Kedua, investor perempuan lebih disiplin dalam menjalankan rencana investasi sehingga investor perempuan memiliki risk-adjusted return yang lebih kuat daripada investor laki-laki. Perempuan lebih konservatif. Mereka memilih berorientasi pada investasi jangka panjang.

Ketiga, investor perempuan lebih bersedia untuk belajar dan meminta saran dari pihak yang dianggap lebih tahu tentang investasi dibanding investor laki-laki. Sebuah studi mengungkapkan, laki-laki cenderung lebih memenangkan egonya untuk tidak bertanya jika menemui kendala saat berinvestasi, dan menggunakan caranya sendiri, ketimbang meminta saran dari pihak lain yang lebih ahli.

Investasi apa saja yang bisa dipilih para perempuan Indonesia di pasar modal? Ada beragam produk investasi, di antaranya reksa dana, saham, obligasi korporasi, surat utang negara, dan produk-produk derivatif. Yang terpenting, pahami lebih dahulu karakteristik masing-masing produk investasi sebelum mulai berinvestasi. Berinvestasilah dalam jangka panjang untuk meminimalkan risiko fluktuasi harga, dan pilihlah beberapa produk investasi sebagai strategi diversifikasi risiko.

(TIM BEI)

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini