Kartini Tangguh, Ratna sang Pilot Polisi Udara

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Minggu 21 April 2019 19:36 WIB
https: img.okezone.com content 2019 04 21 320 2046151 kartini-tangguh-ratna-si-pilot-polisi-udara-xeNZIPlHUn.jpeg

JAKARTA - Raden Ajeng Kartini menjadi tokoh inspiratif bagi banyak perempuan masa kini. Bagaimana tidak? Pada masanya, Kartini menjunjung emansipasi dengan menuntut hak yang sama bagi perempuan, khususnya dalam pendidikan.

Hari ini, perempuan pun bisa menikmati buah dari pemikiran Kartini. Ekspansi dari pemikiran Kartini membuat bidang pekerjaan bagi perempuan saat ini tidak terbatas. Ada kesempatan yang sama untuk perempuan memiliki profesi yang pada umumnya ditekuni oleh laki-laki. Salah satunya yakni menjadi pilot.

Seperti yang dinikmati oleh Ratna Fitria Wijayanti, seorang pilot perempuan dari Kepolisian Udara Pondok Cabe, Tangerang, Banten. Dia menjadi satu dari empat wanita yang mengabdi pada negara sebagai pilot polisi udara di Pondok Cabe.

Ratna mengawali karirnya sebagai polisi wanita pada tahun 2003, hingga akhirnya di tahun 2007 dia berkesempatan untuk mengenyam pendidikan pilot di Sekolah Tinggi Ilmu Penerbangan (STIP) Curug. Berbekal dari biaya dinas Porli, Ratna menyelesaikan studi pada tahun 2009 yang langsung bergabung dengan Kepolisian Udara.

"Bagi saya memang profesi untuk pilot ini bukan hanya untuk pria saja, jika perempuan punya kesempatan dan kemampuan, kenapa tidak (untuk jadi pilot)," ujarnya kepada Okezone.

Menjadi pilot polisi udara, wanita berusia 34 tahun pada 20 April kemarin, bertugas memberikan dukungan (backup) operasional kepada Mabes Polri maupun satuan-satuan kewilayahan. Dia bertanggung jawab dalam mengoperasikan pesawat terbang untuk kebutuhan operasional Kepolisian Indonesia.

"Seperti misalkan operasi Porli yang berada di Papua di mana membutuhkan helikopter maupun pesawat terbang. Selain itu juga terkait penerbangan VIP yang membawa penumpang VIP di lingkungan Porli," jelas Ratna.

Frekuensi penerbangannya pun beragam, bergantung pada kebutuhan operasional. Umumnya satu hingga dua kali dalam sebulan. Meski memiliki profesi dengan tugas yang cukup berat, perempuan kelahiran Purbalingga ini, mengaku tidak sulit membagi waktu antara karir dan Ibu Rumah Tangga.

Pasalnya, lingkungan keluarga hingga kolega kantor mendukungnya untuk menjadi pilot. Kedua anaknya pun memahami pekerjaan sang Ibu. Menurut Ratna, dirinya selalu menghabiskan libur untuk keluarga.

Berbekal dukungan yang besar dari orang sekitar membuat Ratna terus semangat menjalankan tugasnya sebagai abdi negara. "Semua memandang positif, mereka bangga ada perempuan jadi pilot," tambahnya.

Menurutnya, perempuan masih memiliki ruang yang lebar untuk masuk ke dunia penerbangan, khususnya sebagai pilot. Sebab, meskipun jumlah pilot wanita kian bertambah namun tak menyeimbangi jumlah pilot pria yang memang lebih banyak.

Ratna menginginkan perempuan tak ragu untuk mengejar mimpinya sebagai pilot. Baginya, menjadi pilot adalah hal yang membanggakan, dan rasa bangga itu juga bisa dinikmai perempuan lainnya.

"Tentunya yang diharuskan perempuan memiliki semangat, disiplin, juga tanggung jawab jika ingin menjadi pilot," ungkapnya.

Bukan hanya sekedar menikmati buah pemikiran Kartni, Ratna juga menunjukkan kehidupan Kartini masa kini. Dirinya, menjadi satu dari banyaknya perempuan yang berani memperkaya diri dengan pengetahuan dan mengembangkan potensi dalam diri.

Tepat pada hari ini, 21 April yang diperingati sebagai Hari Kartini, Ratna menunjukkan mampu berkarya dan memiliki pengetahuan yang luas.

"Hari Kartini sebagai motivasi bagi perempuan-perempuan Indonesia untuk terus berkarya bahwa kami kaum perempuan mampu meraih kesuksesan," tegasnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini