nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BI Diproyeksi Tahan Suku Bunga Acuan di 6%

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Kamis 25 April 2019 10:53 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 04 25 20 2047824 bi-diproyeksi-tahan-suku-bunga-acuan-di-6-TjTeVd8uw6.jpg Bank Indonesia. Foto: Okezone

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) diproyeksikan menahan suku bunga acuannya atau BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI 7-Days Repo Rate) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan April. Hal ini di untuk mempertahankan daya tarik pasar keuangan Indonesia sehingga arus dana asing bisa tetap mengalir.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyatakan, langkah BI untuk mempertahankan daya tarik pasar domestik karena mempertimbangkan beragamnya faktor risiko global yang masih mempengaruhi pasar keuangan negara berkembang. Seperti perlambatan ekonomi global, antisipasi negosiasi perang dagang antara AS dan Tiongkok, kepastian Brexit.

"Selain itu tren kenaikan harga minyak dunia dalam beberapa waktu belakangan ini juga turut mendorong penguatan dolar AS," jelas dia kepada Okezone, Jakarta, Kamis (25/4/2019).

Baca Juga: Menanti Arah Suku Bunga Acuan BI

Selain itu, pelaku pasar diperkirakan juga masih mengantisipasi hasil keputusan resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) terkait hasil pemilu 2019 yang juga akan mempengaruhi sentimen pasar keuangan domestik. Di sisi lain, meskipun tren inflasi cenderung terkendali dalam rentang target 3,5% plus minus 1%, tetapi BI diperkirakan masih perlu memastikan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) di 2019 turun ke arah yang lebih sehat, yakni ke level -2,5% terhadap PDB.

"BI juga mempertimbangkan tren perbaikan neraca perdagangan pada kuartal I 2019.," katanya.

Josua menilai, langkah menahan suku bunga acuan juga akan membuat pergerakkan Rupiah tetap stabil ke depannya. "Dan di saat bersamaan dapat mendukung penurunan defisit transaksi berjalan pada tahun ini," tambah dia.

bank indonesia

Senada, Direktur Riset Centre of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah juga menilai BI akan menahan suku bunga di level 6%. Menurutnya, masih ada risiko bagi BI untuk menurunkan suku bunga walaupun Bank Sentral AS, The Fed dan bank-bank sentral di global masih dalam tren dovish.

"Sebab penurunan suku bunga akan mempersempit interest rate differential dan bisa menyebabkan tertahannya arus modal asing yang masuk. Bahkan memicu arus balik atau sudden reversal yang bisa menyebabkan melemahnya Rupiah," jelas dia.

Piter menilai, seiring dengan menahan suku bunga, BI akan menggunakan instrumen lainnya untuk melonggarkan likuiditas. "Memanfaatkan bauran kebijakan yang lain seperti melonggarkan operasi moneter atau bahkan meninjau giro wajib minimum,"katanya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini