Terancam Kesulitan Bayar Utang, Pefindo Turunkan Peringkat Sumberdaya Sewatama

Feby Novalius, Jurnalis · Jum'at 03 Mei 2019 09:57 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 03 278 2050939 terancam-kesulitan-bayar-utang-pefindo-turunkan-peringkat-sumberdaya-sewatama-jOjt8khPPH.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA – Pefindo menurunkan peringkat PT Sumberdaya Sewatama (SSMM) dan Obligasi I Tahun 2012 menjadi idBB dari idBB+, dan peringkat Sukuk Ijarah I Tahun 2012 menjadi idBB(sy) dari idBB+(sy).

Seperti dikutip dari data yang dikutip Okezone, Jumat (3/5/2019), penurunan peringkat mencerminkan antisipasi Pefindo terhadap bisnis sewa temporary power yang akan terus memburuk karena kami memandang kecenderungan PLN yang lebih tinggi untuk secara bertahap menurunkan porsi sewa power. Kondisi yang tidak baik ini akan mengancam kemampuan Perusahaan untuk membayar utang yang telah direstrukturisasi yang akan jatuh tempo pada tahun 2022 dan 2024, mengingat bisnis temporary power masih menjadi sumber pendapatan terbesar perusahaan.

Outlook untuk peringkat perusahaan adalah stabil dalam 12 bulan ke depan karena kami telah memasukan faktor penurunan bisnis sewa power dalam penurunan peringkat.

Baca Juga: Pefindo Berikan Peringkat AAA untuk KIK EBA Danareksa BTN

Obligor dengan peringkat idBB memiliki kemampuan yang sedikit lemah untuk memenuhi kewajiban keuangannya relatif dibanding obligor-obligor Indonesia lainnya. Obligor menghadapi ketidakpastian yang terus berlanjut atau terpengaruh oleh pemburukan bisnis, keuangan atau kondisi ekonomi yang dapat berakibat kepada ketidakmampuan obligor untuk memenuhi komitmen keuangannya.

Sebagi informasi, pertumbuhan pendapatan perusahaan negatif sebesar 17-20% selama 3 tahun terakhir. Diprediksi pendapatan pada tahun ini akan mengalami penurunan sebasar 36% menjadi sekitar Rp483 miliar.

Baca Juga: Pefindo Beri Rating AA untuk Obligasi Berkelanjutan Mitra Adiperkasa

Adapun total utang sebesar Rp2,83 triliun. Terdiri dari bank Rp809 miliar, obligasi Rp764 miliar, Bank Syariah Mandiri Rp153 miliar dan Trakindo Rp1,1 triliun.

Oleh karena itu, perusahaan mengajukan proposal awal restrukturisasi dengan perpanjang tenor hutang pihak ketiga menjadi 20 tahun. Kemudian, bunga obligasi menjadi 0%, jadwal pembayaran pokok (melalui penjualan asset dan mekanisme cash sweep) 1-5 tahun sebesar 1.25% (6.25%), 6-10 tahun sebesar 2.50% (12.5%), 11-15 tahun sebesar 5.00% (25%), 15-20 tahun sebesar 11.25% (56.25%), jadi total 100%.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini