Profesi Guru Tak Menarik, Generasi Milenial Lebih Suka Jadi Pengusaha

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 09 Mei 2019 10:10 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 09 320 2053393 profesi-guru-tak-menarik-generasi-milenial-lebih-suka-jadi-pengusaha-oRpgA17w0Q.jpg (Foto: Ilustrasi Koran Sindo)

Totok berpandangan, rekrutmen guru harus selektif dan hanya lulusan sarjana terbaik yang diterima. Hal ini terutama untuk rekrutmen guru sains, teknologi dan matematika, serta guru produktif di SMK. “Oleh karena itu, jika mau rekrut lulusan terbaik maka harus disiapkan jalur karier yang baik, pengelolaan kerja yang modern dan sistem remunerasi yang profesional,” katanya. Peraih The International Alumni Award dari Boston University ini melihat, Indonesia tidak bisa mentah-mentah menyontek rekrutmen guru di Finlandia yang hanya menjaring siswa terbaik saja karena Indonesia memiliki sejarah yang berbeda. Dia menunjuk konsep Tripusat Ki Hajar Dewantara itu yang sebenarnya sangat maju.

guru

“Tripusat adalah pendidikan di lingkungan keluarga, pendidikan di lingkungan sekolah, dan pendidikan di lingkungan masyarakat. Akan tetapi, konsep yang baik ini lagi-lagi lemah di implementasinya,” tandasnya. Ketua PB PGRI Unifah Rosyidi menyampaikan bahwa rendahnya minat anak muda menjadi guru itu sudah bisa ditebak. Dia menganalisis bahwa hal ini disebabkan profesi guru sudah tidak menarik lagi, terutama secara ekonomi. Menurut dia, meski dijanjikan gaji tinggi, banyak guru yang belum sertifikasi karena harus biaya sendiri. Selain itu, juga antrean mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang begitu panjang. “Harus ada spesial insentif jika mau mendapat calon (guru) terbaik,” katanya.

Sementara itu, peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan rendahnya minat anak muda menjadi guru karena melihat kesejahteraan guru yang kurang diperhatikan. ”Sekarang banyak guru-guru tenaga honorer sehingga itu tidak menarik sama sekali,” ujarnya. Menurut Enny, dari 20% alokasi anggaran APBN untuk pendidikan, seharusnya bisa dikelola dengan baik untuk membenahi kualitas pendidikan dan kesejahteraan guru.

“Kalau banyak yang tidak tertarik menjadi guru, artinya yang menjadi guru itu orang yang nggak ada pilihan lain. Artinya, besar kemungkinan kualitasnya rendah. Kalau kualitasnya rendah, bagaimana kualitas pendidikan ke depan? Hasilnya juga pasti rendah,” tuturnya.

(Neneng Zubaidah/Oktiani Endarwati)

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini