nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Neraca Perdagangan April Diprediksi Defisit USD376 Juta

Feby Novalius, Jurnalis · Rabu 15 Mei 2019 07:22 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 15 320 2055816 neraca-perdagangan-april-diprediksi-defisit-usd376-juta-syr6fZLk3j.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis neraca perdagangan April 2019. Diperkirakan neraca perdagangan akan defisit sebesar USD376 juta.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, defisit neraca perdagangan disebabkan laju impor yang diperkirakan tumbuh 4,5% dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara laju bulanan ekspor diperkirakan mengalami kontraksi sebesar 2,2% dibandingkan bulan sebelumnya.

"Jadi neraca perdagangan April diperkirakan defisit USD376 juta dibandingkan dua bulan sebelumnya yang berturut-turut mencatatkan surplus dengan total kumulatif USD870juta," ujarnya saat dihubungi Okezone, Rabu (15/5/2019).

 Baca Juga: Presiden Ungkap 2 Kunci untuk Perbaiki Neraca Perdagangan, Apa Saja?

Dia melanjutkan, laju ekspor pada April diperkirakan menurun sebesar 5,68% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara laju impor diperkirakan akan tercatat negati 12,83% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Kinerja ekspor April yang cenderung masih tertahan oleh tren penurunan volume permintaan ekspor dari mitra dagang utama terindikasi dari penurunan indeks PMI manufaktur dari Tiongkok dan India serta dipengaruhi oleh tren penurunan harga komoditas ekspor seperti batu bara yang secara rata-rata turun 12% (MoM) meskipun diimbangi dengan kenaikan harga CPO yang secara rata-rata naik 5% (MoM) di bulan lalu," katanya.

Di sisi lainnya, dia mengatakan, laju impor barang kosumsi diperkirakan akan meningkat menjelang Lebaran. Hal tersebut karena dalam rangka menjaga supply barang konsumsi.

 Baca Juga: Neraca Perdagangan Kuartal I-2019 Defisit USD193 Juta

Selain itu, untuk impor barang modal dan bahan baku diperkirakan akan cenderung melandai terindikasi dari aktivitas manufaktur yang turun pada bulan April.

"Investasi yang melandai juga terindikasi laju penjualan dan konsumsi semen yang masing-masing terkontraksi -6,7%YoY dan -8,7%YoY pada bulan April lalu," tuturnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini