nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Industri Baja India Khawatir Dampak Perang Dagang AS-China

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 15 Mei 2019 10:27 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 05 15 320 2055870 industri-baja-india-khawatir-dampak-perang-dagang-as-china-wnwyJ6vtb4.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

NEW DELHI – India khawatir China dapat mulai mengirimkan kelebihan bajanya ke negara itu setelah Amerika Serikat (AS) menaikkan tarif pada produk-produk China.

Akibatnya, industri baja India meminta pemerintah India menerapkan bea masuk perlindungan sebesar 25% untuk melindungi industri baja dari impor baja yang meningkat. Bea masuk itu diperkirakan diterapkan pada baja asal China yang akan dikirim ke India dengan harga di bawah biaya produksi.

Sejak tahun lalu, China dan AS terlilit konflik dagang saat Washington berupaya membenahi keseimbangan perdagangan yang sekarang dianggap menguntungkan Beijing. Kedua negara telah menaikkan atau mengancam menaikkan tarif pada sejumlah produk. Langkah ini akan mengubah ulang arus perdagangan dan mengancam mengguncang ekonomi global.

“China memiliki kelebihan kapasitas (baja) dan ada kekhawatiran mereka dapat mengubah rutenya melalui negara lain, seperti Vietnam dan Kamboja ke India,” tutur sumber pemerintah India yang mengetahui masalah itu kepada Reuters.

 Baca Juga: Perang Dagang II, China Balas Kenakan Tarif Impor USD60 Miliar untuk Produk AS

“Sektor baja rawan,” ungkap sumber itu secara anonim. India merupakan produsen baja terbesar kedua di dunia yang beralih menjadi importir pada tahun lalu hingga 31 Maret 2019, setelah ada kesenjangan tiga tahun. Itu karena India kurang kapasitas menghasilkan baja berkualitas tinggi dan kehilangan beberapa klien globalnya karena ekspor baja yang lebih murah dari China, Jepang, dan Korea Selatan (Korsel).

“China, Jepang, Korea merupakan eksportir utama ke AS, Eropa, dan Kanada, karena berbagai langkah dagang, mereka juga mengalihkan baja ke India,” ungkap Seshagiri Rao, Managing Director JSW Steel Ltd. Rao menambahkan, “Sangat penting bagi pemerintah India untuk meningkatkan bea perlindungan menjadi 25% sesegera mungkin.”

 Baca Juga: AS Berlakukan Tarif Impor, China: Negosiasi Dagang Tidak Gagal

Bulan lalu, perusahaan-perusahaan baja JSW, Steel Authority of India, Tata Steel, Jindal Steel, dan Power, menguasai lebih dari 45% produksi total baja India. Mereka bertemu para pejabat pemerintah untuk meminta perlindungan, menurut sumber yang menghadiri pertemuan itu. Selama pertemuan, Menteri Baja India Binoy Kumar menjelaskan, industri baja mendapat risiko dari kelebihan kapasitas global.

Kumar menyatakan, India perlu bertindak segera untuk melindungi industri baja dari impor karena akan sulit untuk memulihkan lagi jika situasi dibiarkan memburuk selama tiga hingga empat tahun. Meski demikian, kebijakan untuk bea masuk perlindungan itu belum diambil.

Kementerian Baja India belum memberikan komentar terkait perkembangan itu. “Apa yang kita lihat adalah bagian pengalihan ekspor yang telah membuat terobosan,” papar Arnab Kumar Hazra, asisten sekretaris jenderal Asosiasi Baja India yang mewakili para produsen baja utama di negara itu.

India telah menerapkan bea masuk perlindungan pada 2015-2017 pada beberapa produk baja untuk mencegah impor yang lebih murah dan melindungi industri lokal, membuat Jepang mengajukan tindakan India itu ke panel sengketa Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Defisit perdagangan India dengan China meningkat lebih dari sembilan kali lipat dalam dekade lalu menjadi USD63,05 miliar pada tahun yang berakhir Maret 2018.

Dengan tarif terbaru AS pada produk-produk China, India khawatir Beijing juga dapat mengubah rute ekspor barang- barang elektronik, mainan, furnitur, dan bahan kimia organik ke India, melalui negara- negara Asia Tenggara.

New Delhi dan Beijing telah menegosiasikan akses pasar lebih besar saat China ingin mengekspor produk susu dan apel ke India dan New Delhi ingin menjual daging sapi ke China. Perang dagang antara AS dan China kian memburuk setelah Beijing berencana menerapkan tarif pada produk-produk AS senilai USD60 miliar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini