nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Neraca Dagang Defisit, Sri Mulyani: Kita Juga Harus Waspada

Taufik Fajar, Jurnalis · Rabu 15 Mei 2019 16:15 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 15 320 2056082 neraca-dagang-defisit-sri-mulyani-kita-juga-harus-waspada-lc0qGezqPL.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Foto: Antara)

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan mengalami defisit sebesar USD2,5 miliar pada April 2019. Hal itu didorong nilai ekspor pada April 2019 sebesar USD12,60 miliar dan impor USD15,1 miliar.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menayatakan, defisif necara perdagangan ini harus diwaspadai. Sebab laju ekspor mengalami penurunan lebih dalam yakni 10,80% dari Maret 2019. 

"Walaupun impornya kontraksi, tapi ekspor kontraksinya juga lebih dalam lagi. Jadi ini faktor dari ekspor yang sebetulnya mengalami pelemahan. Kita juga harus waspada," ujarnya ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (15/5/2019).

Baca Juga: Neraca Perdagangan Kuartal I-2019 Defisit USD193 Juta

Dari sisi impor, lanjutnya, mulai dari impor bahan baku dan barang modal juga perlu diantisipasi terhadap industri yang menggunakannya. Sebab ini digunakan untuk pertumbuhan ekonomi kedepannya.

"Sebetulnya sinyal ini menggambarkan ekonomi dunia mengalami situasi yang tidak mudah. Indonesia kalau ingin menjaga pertumbuhan ekonominya di atas 5%, berarti dari sisi komposisi pertumbuhannya itu terutama yang untuk industri manufaktur itu akan mengalami tekanan yang cukup dalam. Pertanyaannya apakah sektor lain bisa mem-backup," jelas dia.

Data BPS menunjukkan, impor meningkat 12,25% dari Maret 2019, terjadi karena impor migas naik 46,99% dan non migas naik  7,82%. Sri Mulyani menyatakan, defisit migas masih besar karena dari sisi volume permintaan meningkat.

“Tidak bisa meminta supaya volume turun, sebab dengan pertumbuhan ekonomi di atas 5% tidak akan mungkin permintaan terhadap energi turun. Pasti akan meningkat," jelas dia.

Baca Juga: Ekspor Anjlok, Neraca Perdagangan April Defisit USD2,5 Miliar

Sementara itu, dari sisi produksi apabila dilihat minyak dan gas itu produksinya cukup stagnan, bahkan lifting tidak sesuai dengan asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sementara permintaan energi terus meningkat.

"B20 sudah diperkenalkan kemarin, Pertamina pun menyampaikan sudah mulai melakukan. Tapi melihat impor yang dilakukan Pertamina kemarin masih cukup besar. Jadi kita lihat apa yang terjadi, saya menunggu dari Menteri ESDM atau Menko Perekonomian untuk melihat dari sisi itu,” katanya.

Menurut dia, jika transaksi berjalan dan neraca perdagangan mengalami defisit dalam situasi saat ini maka akan menimbulkan risiko lebih tinggi terhadap ekonomi Indonesia. “Dengan kita mengalami defisit dalam situasi sekarang yang gonjang ganjing ini akan menimbulkan risiko yang lebih tinggi terhadap ekonomi kita,” kata dia. (yau)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini