nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Harga Naik Terus, Milenial Terancam Tak Punya Rumah

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 22 Mei 2019 11:30 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 22 470 2058836 harga-naik-terus-milenial-terancam-tak-punya-rumah-3Cpq05DvhU.jpeg Foto Rumah: Ilustrasi Shutterstock

KECENDERUNGAN generasi milenial yang lebih suka mengoleksi pengalaman daripada aset serta tuntutan gaya hidup yang konsumtif membuat mereka sulit memiliki hunian. Harga rumah dan tanah yang terus naik membuat kaum muda tersebut harus segera membeli tempat tinggal.

Memiliki rumah sendiri menjadi idaman bagi semua orang, terutama generasi milenial. Pasalnya, sebagian besar kaum muda tersebut belum memiliki rumah. Berdasarkan riset yang dilakukan IDN Research Institute dan dirilis dalam Indonesia Millennial Report 2019, hanya sebesar 35,1% milenial Indonesia yang sudah memiliki rumah. Sisanya, masih berangan-angan saja. Kebutuhan semakin beragam, sedangkan harga properti semakin tinggi. Kondisi tersebut berpengaruh pada kemampuan milenial untuk membeli rumah. Padahal, jika memiliki manajemen keuangan yang baik, para milenial bisa memiliki rumah sendiri di usia muda.

Baca Juga: Harga Bakal Naik, Ini Solusi Kumpulkan Uang untuk Beli Rumah Subsidi

Ketua DPD Himpunan Pengembang Perumahan dan Permukiman Rakyat (Himperra) DKI Jakarta Aviv Mustaghfiri mengutarakan, harga rumah dan tanah terus naik, milenial sebaiknya tidak menunda untuk membeli rumah. “Milenial kebanyakan memikirkan lifestyle, tinggal di apartemen karena sesuai sama kebutuhan gaya hidup, lebih baik beli rumah, punya tanah sendiri,” ujarnya. Menurut dia, rumah mempunyai kelebihan dan keuntungan yang lebih banyak dibandingkan dengan beli apartemen atau mengontrak. “Kalau apartemen, tanahnya bukan milik sendiri, kepemilikannya harus diperpanjang, tidak bisa selamanya, dan tidak bisa diwariskan. Kalau rumah sudah beli, ya punya hak milik, kenaikan harganya, yang rumah murah saja setahun bisa Rp100 juta hingga Rp200 juta, bisa diwariskan juga,” papar Aviv.

Selain itu, kata Aviv, skema pembiayaan untuk kredit pemilikan rumah (KPR), terutama untuk milenial saat ini sudah banyak. Hal itu seharusnya bisa makin memacu milenial bahwa memiliki rumah itu mudah, ditambah dengan keuntungan lain setelahnya. “Sekarang sudah ada program KPR dari bank, bahkan yang tenornya bisa sampai 30 tahun. Bayangkan kalau beli rumah murah yang Rp150 jutaan, cicilannya sebulan bisa cuma Rp800.0000 sampai Rp1 juta saja per bulan, ngontrak rumah saja enggak dapat itu sekarang,” tegasnya.

rumah

Aviv mengatakan, saat ini yang dibutuhkan untuk milenial adalah edukasi agar keinginannya terhadap hunian lebih condong untuk memiliki rumah tapak. Tidak perlu yang ukuran besar atau mahal, selama lokasi dan akses baik, milenial agar tidak menunda punya rumah. “Kalau nunggu harganya akan naik terus, ditunggu pun enggak akan ada yang jadi murah. Jadi, beli rumah itu jangan nunggu nanti, nekat saja,” sarannya.

Adapun Deputy Director III Head of Centre for ASEAN Creativepreneurship Studies London School of Public Relations Taufan Teguh Akbari mengatakan, sebelum mencari hunian, sebaiknya tentukan dulu kebutuhan aktivitas atau kariernya, apakah di kota atau di pinggiran.

(Rendra Hanggara)

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini