nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Saat Indonesia Rayakan Lebaran, Ekonomi Dunia Tertekan

Rani Hardjanti, Jurnalis · Senin 10 Juni 2019 11:37 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 06 10 20 2064891 saat-indonesia-rayakan-lebaran-ekonomi-dunia-tertekan-2Hml7V31HX.jpg Menkeu Sri Mulyani dalam pertemuan G20 di Jepang membahas tekanan ekonomi yang terjadi. (Foto: Facebook Sri Mulyani)

JAKARTA - Sepekan belakangan ini masyarakat Indonesia tengah merayakan hari raya Idul Fitri. Namun, di sisi lain ekonomi dunia tengah tertekan.

Hal itu diungkapkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam postingannya di akun sosmed Facebook miliknya. Ibu tiga anak itu pun bertolak ke Fukuoka, Jepang, untuk duduk bersama dengan stake holder tingkat dunia guna membahas kondisi ekonomi dunia yang tengah tertekan dalam forum G20 pada 8-9 Juni 2019. Hal yang ditekankan Sri Mulyani dalam ajang bergensi tersebut adalah Risiko Global Meningkat - Kerjasama Makin Penting.

Baca Juga : Rating Utang dan Daya Saing Naik, Menko Darmin: Ini Mengurangi Tekanan Global

Berikut postingan selengkapnya yang ditulis Sri Mulyani, seperti dikutip Okezone, Senin (10/6/2019).

Pada saat Indonesia tengah merayakan Hari Raya Iedul Fitri, ekonomi dunia mengalami tekanan makin besar dari eskalasi perang dagang dan persaingan geo-politik antar Amerika Serikat dengan RRT. Hal ini menyebabkan peningkatan ketidakpastian global, melemahkan Invetasi dan pertumbuhan ekonomi dunia.

Proyeksi ekonomi dunia untuk 2019 telah dipangkas 0.3% menjadi hanya 2,6% (Worldbank) atau 3,3% (IMF). Perang tarif akan melemahkan pertumbuhan hingga 0,5% tahun 2020, dan menyebabkan volume perdagangan dunia merosot sebesar 455 milyar dollar Amerika - dengan pertumbuhan hanya mencapai 2,6% (terlemah sejak krisis Keuangan global 2008).

Dalam suasana resiko global yang meningkat, pertemuan G20 Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral dilakukan di Fukuoka Jepang. Diharapkan tensi global dapat menurun melalui pembahasan resiko kondisi ekonomi global dan pentingnya menjaga dan memperkuat kerjasama internasional. Meski perbedaan masih sangat tajam.

G20 diawali dengan simposium tentang International Taxation, dimana Menkeu Indonesia bersama Menkeu Jepang, RRT, Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat menjadi pembicara utama. Digitalisasi ekonomi dan kemajuan teknologi informasi mengubah model bisnis dimana kehadiran secara fisik tidak penting. Hal ini melemahkan prinsip “Permanent Establishment” yang menjadi dasar sistem perpajakan internasional. Diperlukan sistem perpajakan internasional baru agar mampu menjamin pemajakan yang adil antar negara di era digitalisasi. Inggris, Australia, Perancis telah melakukan perpajakan untuk ekonomi digital termasuk penggunaan big data. India menerapkan pungutan untuk equalisasi.

Baca Juga : Pengusaha Minta Pemerintah Antisipasi Penurunan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global

Kerjasama perpajakan internasional yang mengalami kemajuan pesat adalah pencegahan penghindaran pajak melalui “Base Erosion Profit Shifting” (BEPS) dan kerjasama pertukaran informasi “Automatic Exchange of Information” oleh 130 negara/jurisdiksi. Saat ini tidak ada tempat untuk menyembunyikan kewajiban pajak oleh siapapun. Menkeu Jepang Taro Aso dan OECD Angel Gurria mengutip pernyataan Benjamin Franklin (1789): “In this world nothing can be said to be certain, except death and taxes”.

Sesi pertama mengenai Development Finance - dan utang negara low income countries dengan rasio utang diatas 50% PDB dan defisit fiskal mencapai 3% PDB - memerlukan koordinasi dan kerjasama para donor baik donor tradisional maupun donor baru. Indonesia harus tetap menjaga kehati-hatian dalam menghadapi ketidakpastian global, meski kondisi fiskal kita jauh kebih baik.

Universal Health Coverage - yang sangat relevan dengan isue BPJS Kesehatan perlu keseimbangan mencakup: kepesertaan yang disiplin dan luas (universal), manfaat yang rasional, tarif yang terjangkau, dan implikasi keuangan negara yang sustainable.

Hari ini saya melakukan bilateral meeting dengan Menkeu Australia (Joshua Frydenberg), dengan Presiden Bank Dunia David Malpass membahas kondisi ekonomi dunia terkini. Juga beramah-tamah dengan Menkeu India yang baru, dan Menkeu Singapore. Saya juga melakukan wawancara dengan Bloomberg TV.

Hari pertama ditutup dengan Cultural Event dan makan malam di Maizuru Park - Fukuoka City Museum.(rhs)

(fmh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini